Halaman

Tampilkan postingan dengan label Sosio-Ekologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosio-Ekologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

Kematian Sumber Daya Alam.

Di Maluku - Indonesia ini, adalah kemewahan untuk menghirup hawa kehidupan. Rumputan bersemi, kuncup merekah, padang dan pegunungan berlukiskan mawar dan emas dalam kembang-kembang aneka-warna. Udara sarat kicau burung, dialiri hawa manis pohon salawaku, semerbak pohon cengke dan pala. Anak-anak ikan takkan henti-hentinya membuka matanya lebar-lebar, berenang mengikuti arus lautan, tercabut dari tubir melambung ke udara bersama ombak yang meninggi.

Jika malam tiba, di kegelapan yang hampir transparan bintang-bintang mencurahkan sinarnya yang sungguh rohaniah. Di bawah semua itu, orang-orang Maluku terasa bagai kanak-kanak yang bola bumi raksasa [Sumber Daya Alam] adalah mainannya. Malam benar-benar sejuk, dan seolah bumi ini [Sumber Daya Alam] selalu dimandikan dengan air keringat orang-orang Maluku. 

Kini orang-orang Maluku mesti menyiapkan matanya untuk menyambut rekah fajar yang jauh dari warna jingga. Orang-orang Maluku dipaksa menghormati suatu kebohongan yang lebih tinggi dari eksistensi dasarnya. Betapa luas - sungguh kaya; dalam kesuburan tanahnya, dalam bentangan lautanya yang dapat dilayari, dalam pegunungannya yang menyimpan logam, dalam rimba-rimbanya yang menyuguhkan kayu-kayuan, dalam daya dan jalur cahayanya, daya tarik dan kehidupannya; semua itu tak sia-sia ditaklukkan dan dinikmati oleh pikiran dan batin orang-orang besar. Sang penanam modal, sang pengusaha, sang pemerintah bebal, sang P dan T dengan huruf besar, dan sang-sang terselip namun eksis. Begitulah orang-orang besar menamakan diri mereka di dalam bola bumi raksasa [Sumber Daya Alam] yang menjadi mainan masa kanak-kanaknya orang Maluku.

Minggu, 14 Agustus 2011

Kebersihan Menjadi Hakekat Tujuan (Kalesang HalongMardika) Edisi V


Bertolak dari cerita Kalesang HalongMardika Edisi ke IV, maka saat ini Minggu 14 Agustus 2011 kami selaku pemuda kembali menjalankan tugas tulus kami, yakni, membersihkan kembali lingkungan di HalongMardika. Kami sadar bahwa apa yang kami lakukan ini mungkin bagi orang lain adalah sebuah hal yang konyol, tetapi bagi kami ini adalah sebuah permainan yang begitu mengasyikkan. Yang mana kami bisa secara langsung bersentuhan dengan Alam yang bagi kami ia bernafas. Kami tidak peduli dengan pendapat orang bagi kami, sebab yang kami pahami itu adalah mulia, dan bahwa kami menginginkan hawa hijau di HalongMardika. Namun daripada itu, kami juga menginginkan semua orang di HalongMardika bisa ada pada tingkat kesadaran yang dalam tentang peduli terhadap Alam yang bernafas itu. Agar mereka bisa ada bersama-sama dengan kami untuk membersihkan lingkungan Halongmardika. Tetapi biarlah kesemuannya itu (kesadaran induvidu yang berdomisili di HalongMardika) lahir dari budipekerti, bukan dari kemunafikkan.

Kami selaku pemuda, tidak mau dan sama sekali tidak mengkehendaki adanya pemaksaan kesadaran. Yang kami mau kelahiran kesadaran dari setiap insan di HalongMardika untuk menjaga kebersihan secara terpadu, bahkan bijaksana. Kesadaran untuk membersihkan lingkungan secara bersama-sama dengan kami dan kesadaran untuk menjaga kebersihan di perkampungan HalongMardika. Sebab bagi kami, secara prinsipiil seorang manusia adalah penguasa bagi dirinya sendiri, bukan penguasa bagi orang lain, apalagi penguasa bagi Alam. Dan jika kami melakukan bersih lingkungan di HalongMardika sebagai sebuah upaya penyadaran yang terdalam bagi diri kami sendiri, kami juga menginginkan agar setiap penghuni di situ (HalongMardika) melahirkan kesadaran mereka. Karena mereka mau dan tidak mau adalah juga penguasa atas diri mereka, bukan atas Alam dan atas orang lain. Maka itu, penyadaran ini bermaksud agar kami seragam, yang mana berkuasa atas diri sendiri bukan kepada Alam dan orang lain. Sebab hanya pada titik itulah kami sangat yakin bahwa, suatu saat nanti, suatu waktu nanti kami semua akan menjadi orang-orang yang merdeka. Karena kami telah melihat Alam sebagi bagian dari nafas bersama, bukan sebagai objek yang mesti dihancurkan.

Dari sini, tampaknya ritme kebersihan mesti selalu menghiasi alunan sudut-sudut Alam HalongMardika. Kebersihan mesti menjadi hakekat tujuan dari kerja keras yang telah dilakukan oleh kami. Namun akhirnya, kami tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah sampai pada tepian kapan dan di mana hakekat tujuan itu. Karena hakekat tujuan dari kebersihan adalah mulai dan mulai lagi, terus dan menerus lagi.

Oleh karena mulai dan mulai lagi, terus dan menerus lagi, kami selaku pemuda telah dipandang sebagai para serdadu sampah yang tugasnya membersihkan lingkungan di HalongMardika. Kami telah dilihat sebagai petugas kebersihan yang setiap Minggu-nya harus berperang dengan bau busuk. Bahkan lebih daripada itu, kami telah dicap sebagai antek-antek material, yang ketika difasilitasi semuanya beres. Hahaha!!! Kami tertawa lepas. Kami bukan para serdadu sampah, kami juga bukan petugas kebersihan, bukan juga antek-antek materi yang pada dini hari ingin dibeli seharga Rp.50.000, oleh salah satu pengusaha “Tahu” di perkampungan HalongMardika. Kalau ikut mekanismenya jasa kami melebihi uang senilai itu. Kami hanya orang-orang yang berkuasa atas diri kami sendiri, karena itu kami tidak mau kalau ketulusan kami disalahgunakan. Kami adalah pemerhati Alam HalongMardika, bahkan kami ini adalah Alam. Kami tidak mebutuhkan materi, kami tidak mebutuhkan suapan. Yang kami butuhkan ialah kesadaran. Kesadaran untuk melihat kekotoran, serta menangani secara bijak kebersihan yang telah ada dan yang akan selalu ada. Itulah kebutuhan kami sebagai sang pemuda.

Akhirnya, kami ingin berteriak bahwa, barangkali apa yang telah kami lakukan ini, dan akan terus melakukannya (bersih lingkungan di HalongMardika) dapat melahirkan kesadaran absolut dari setiap penghuni HalongMardika. Agar kebersihan yang akan dilakukan secara terus menerus menjadi hakekat tujuan sebuah keharusan, bukan sebagai utopia.
(Bersambung),,

Minggu, 07 Agustus 2011

Nilai Hidup Selaku Pemuda Yang Tak Pernah Memiliki Alasan “Mengapa”. (kalesang HalongMardika) Edisi IV


Di saat ini saya tidak menceritakan secara konkrit tentang perjalanan saya dan teman-teman sewaktu membersihkan lingkungan di HalongMardika. Saya hanya menceritakan nilai yang ditemukan sewaktu membersihkan lingkungan di hari ini. Nilai yang tentunya ditemukan secara bersama oleh saya dan teman-teman. Yang secara utuh merupakan sebuah iktiar untuk menjadi pemuda yang sesungguhnya. Untuk itu mari kita menyimak nilai itu satu demi satu.

Datangnya waktu menjadikan kita seluku pemuda mesti tahu apa yang hendak kita pikirkan dan lakukan. Kita selaku pemuda tidak dapat bereksistensi tanpa bertanya-tanya tentang apa yang mesti kita lakukan. Berhenti atau tidak lagi berpikir serta bertindak mungkin akan membawa kita selaku pemuda pada tahap dimana perjuangan akan kendor. Untuk itu, langkah mempertahankan eksistensi diri selaku pemuda mesti selalu mengalami kemajuan seturut perkembangan zaman, dan mesti disisipkan dengan kemampuannya yang superintens. Sebab, hanya seperti itu sajalah kita dapat merubah sebuah kenyataan yang tidak mesti menjadi sebuah keharusan. Dengan kata lain, superintens mengatur langkah untuk melakukan suatu hal demi kepentingan bersama harus menjadi dasar eksistensi kita selaku pemuda.

Pemuda biar bagaimana juga merupakan orang-orang yang selalu ada dalam dimensi ke-pro-aktifan. Proaktif terhadap pemikirannya, proaktif terhadap tindakannya, bahkan proaktif terhadap eksistensinya. Jika, ada kedapatan pemuda yang tidak memiliki jiwa seperti demikian, maka sangat disayangkan. Proaktif bisa bermakna ambingu, dalam arti proaktif untuk mendatangkan keburukan diri, dan proaktif untuk mendatangkan kebaikan bagi diri. Oleh itu, yang dibutuhkan pada masa kini adalah proaktif yang dapat menciptakan kebaikan diri yang bertular pada orang sekitar. Dalam pengertian, pemuda mesti ada dalam sebuah kepastian untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan tuntutan konteks di mana ia berada. Ia mesti mengeluarkan seluruh kapasitasnya selaku pemuda yang sesungguhnya, untuk menciptakan sebuah pola yang bersentuhan dengan kepraktisan. Praktis berpikir dan bertindak menciptakan sejarah baru. Maksunya, dalam pendirian yang bersifat praktis pemuda hendaknya mampuh melahirkan paradigma baru terkait rasa kepedulian bagi seisi jagat ini.

Pada hari ini, seandainya pendirian pemuda tidak lagi bersifat peduli pada jagat ini (lingkungan hidup), maka pasti tidak akan terjadi sebuah kegiatan setiap hari Minggu di dalam perkempungan ini. Sungguh menarik mengamati bahwa, ada sebagian pemuda bahkan juga anak-anak yang saat ini menaruh eksistensinya untuk peduli terhadap jagat alam ini. Menarik jika di kota ini (Ambon) ada orang-orang yang selalu memberih dirinya untuk bergulat dengan sampah. Dari sini, maka mungkin upaya untuk menjadikan hidup lebih sempurna salah satunya harus ditempu dengan sebuah tindakan yang hijau. Tindakan yang hijau itu merupakan terobosan pada sebuah keseimbangan hidup terhadap alam (lingkungan). Jadi melihat dan menjadikan alam sebagai bagian dari hidup adalah merupakan sebuah tuntutan zaman. Alam itu bernafas, ia mambutuhkan perhatian yang tidak hanya sekedar berjalan-jalan di atasnya. Numun lebih daripada itu, ia membutuhkan sentuhan yang manis. Seperti menghindarinya dari hasil produksi kita selaku manusia.

Dari sudut pandang ini, maka AM GPM Cabang Bethel, lagi pemuda HalongMardika kembali melancarkan aksi bersih lingkungan pada hari Minggu (angkat sampah). Barangkali ada banyak sekali orang-orang yang juga telah menerjunkan hidupnya untuk peduli tarhadap alam (lingkungan) ini, dengan berbagai macam cara, yang mulai dari membuang sampah pada tempatnya, menanam sejumlah pohon, bahkan pada tataran yang lebih ekstrim seperti menjadikan tempat tinggalnya (komunitas) sebagai sebuah tempat dimana tidak diizinkan hadirnya pusat-pusat perindustrian. Namun demikian, ada yang berbeda, ada yang unik dari bersih lingkungan yang dilakukan oleh AM GPM Cabang Bethel, lagi pemuda di kawasan perkampungan HalongMardika.

Yang beda, dan yang unik ialah bahwa, AM GPM Cabang Bethel, lagi pemuda HalongMardika melakukannya di dalam sebuah komunitas yang mejemuk. Yang pada prinsipnya komunitas di situ (HalongMardika) telah memperhadapkan AM GPM serta pemuda HalongMardika dengan banyak sekali suku, budaya, dan agama. Dan AM GPM Cabang Bethel serta pemuda di situ mencoba untuk menjadikannya sebagai sebuah media untuk menjalin persaudaraan di antara setiap suku, budaya, agama yang telah menetap dalam perkampungan HalongMardika. Meskipun dalam kenyataannya hingga saat ini belum juga menumbuhkan kesadaran yang dalam dari setiap penghuni. Tetapi itu tidak akan menjadi masalah. Sebab, AM GPM dan pemuda HalongMardika harus selalu menunjukan eksistensinya pada alam (lingkungan). Agar apa yang menjadi kerinduan bersama, bahkan tujuan bersama untuk menciptakan HalongMardika yang bersih, rapi, dan sehat dapat derwujud.

Di lain pihak, segala fenomena bersih lingkungan telah dilakukan pada hari ini (Minggu 7 Agustus 2011). Meskipun dalam kenyataannya masih menyisahkan banyak sekali hambatan. Tetapi dari hal itu kami telah melakukannya, dan terus akan melakukannya. Melakukan bersih lingkungan setiap hari minggu. Kami akan selalu bergerak bersama untuk “barmaeng peci” berenang di lautan sampah yang bagi kami tidak mesti menjadi sebuah tuntutan bagi jati diri alam raya di HalongMardika. Namun, itulah kami (AM GPM dan pemuda HalongMardika) yang akan mulai dan mulai lagi untuk menunjukkan superintens dalam eksistensi kami bagi seisi jagat ini (lingkungan).

Bersambung...!!!

Minggu, 31 Juli 2011

BERTAPA di TENGAH KERAMAIAN SAMPAH (Kalesang HalongMardika) Edisi I, II, dan III


Tidak semua orang di dunia ini yang memiliki motivasi, rasa, bahkan tindakan yang sama. Apalagi kalau motivasi, rasa, dan tindakan itu menuju pada sebuah kepedulian bagi Alam. Saya sangat yakin bahwa, di hari ini (Minggu 31 Juli 2011) tepatnya di Kota Ambon banyak sekali orang yang mengisi waktunya untuk terlelap dalam mimpi, alias “polo bantal”. Namun ada juga orang-orang yang pada hari ini terkena musibah, bersantai menikmati hidup, berlibur, mencari nafkah, mabuk, dan sebagainya. Dan barangkali benar bahwa semua hal ini disebabkan karena hujan yang berkepanjangan di kota ini (Ambon). Namun demikian dari beberapa deretan peristiwa-peristiwa di atas ini, saya bersama teman-teman yang tergabung dalam AM GPM, sekaligus sebagai pemuda di HalongMardika tetap berinisiatif dan termotivasi untuk menjalankan tugas kami sebagai bentuk dari rasa cinta di antara cinta bagi Alam (lingkungan). Kami bergerak untuk mengisi hari libur (hari Minggu) kami dengan cara bersih lingkungan.

Saya menyadari bahwa, pada hari ini merupakan Minggu ketiga kami menjalankan kegiatan bersih lingkungan di dalam perkampungan HalongMardika. Dan saya baru bisa saja memuatnya dalam sebuah esai yang begitu kerdil. Tetapi di sini saya mencoba untuk menemukan suatu hal terkait tindakan nyata yang telah saya bersama teman-teman lakukan. Namun sebelum mengatakan hal yang saya temukan itu ada baiknya saya menceritakan kegiatan bersih lingkungan pada Minggu pertama, kedua, dan ketiga, ditamba hambatan-hambatannya yang semuanya itu didisain dalam bentuk abstaksi belaka.
Langkah adalah konsepsi manusia yang superintens. Dalam pengertian, melangkah untuk bertindak melakuan suatu hal dengan intens merupakan sebuah proyek yang mulia. Apa pun tindakan itu, apa pun yang dilakukannya itu, baik yang mendatangkan kebaikan ataupun juga kejahatan merupakan sebuah keutuhan manusia sebagai subjek aktif. Sebab, manusia tentunya merupakan pelaku sejarah, dan hal ini biar bagaimanapun juga jika diperhadapkan dengan praksis, maka akan memodifikasi manusia untuk memulainya dari waktu ke waktu. Peduli terhadap jagat Alam ini, atau lebih tepatnya melakukan tindakan bersih lingkungan merupakan suatu hal yang paling tidak akan membawa manusia pada titik kejenuhan. Apalagi kalau bersih lingkungan itu dilakukan secara rutin. Tetapi orang-orang yang tiba-tiba ada pada titik kejenuhan itu sesungguhnya sementara menjadikan diri mereka sebagai seorang peniru, bukan pelaku. Artinya, aksi membersikan lingkungan itu hanya terlaksana karena ada unsur keterpaksaan, bahkan mungkin ada intimidasi secara halus. Jadi mereka yang tiba pada titik kejenuhan sewaktu melakukan aksi bersih lingkungan itu merupakan orang-orang yang motivasinya tidak jelas, dengan kata lain melakukan bersih lingkungan bukan murni lahir dari sebuah kesadaran yang terdalam, namun dari sebuah praktek ikut-ikutan yang kendor dan dangkal.

Di samping itu, AM GPM, lagi pemuda di perkampungan HalongMardika pun tidak terlepas dari unsur yang telah dikatakan tadi bahwa, ada yang melakukannya (melakukan bersih lingkungan sebagai wujud kecintaan pada jagat Alam raya) dengan sebuah keberadaan diri yang terpaksa, ikut-ikutan, peniru, yang dibingkai dalam sebuah motivasi yang dangkal, bukan karena sadar. Tetapi akhirnya saya perlu untuk mempertegas kembali bahwa, itulah manusia yang tentunya tidak memiliki visi yang sama, rasa yang sama, bahkan tujuan yang sama. Dari hal inilah, maka upaya untuk bertindak mengatasi keburukan lingkungan memerlukan sebuah kecakapan yang tinggi dalam memotivasikan seseorang lewat dialog terdidik. Hal ini yang akan dilakukan oleh AM GPM dan pemuda di perkampungan HalongMardika, meskipun dalam kenyataannya tidak semua potensi yang terlibat. Namun demikian, representasi telah ada tinggal mencari stategi yang tepat saja untuk menjadikannya sebagai sebuah sistem yang mapan. Agar semua potensi dapat digerakan secara bersamaan.

Tampaknya itulah hambatan-hambatan yang saya temui selama tiga kali melakukan bersih lingkungan pada hari Minggu di dalam perkampungan HalongMardika. Yang mana tidak semua orang melakukannya karena ada kerinduan yang dalam terhadap alam. Namun sudah, kita tinggalkan saja hambatan itu. Sebab bagi saya, siapa yang hidup dalam kebaikan kodratnya hidup dalam cinta Alam (terlepas dari cinta Tuhan) dan cinta sama sekali tidak mempunyai alasan mengapa.

Pada Minggu pertama tepatnya pada tanggal 17 Juli 2011, kami (saya dan teman-teman) yang tergabung dalam AM GPM Cabang Bethel, lagi pemuda HalongMardika, dan beberapa adik-adik saya dari UKIM (Universitas Kristen Indonesia Maluku) memulai menjalankan aksi bersih lingkungan. Di saat itu kami cukup padat, dalam pengertian banyak sekali teman-teman yang aktif bekerja untuk membersikan perkampungan di HalongMardika. Dan di saat kami melakukan aksi itu, ada beberapa penduduk asil HalongMardika yang menyambutnya dengan ceria, bangga, bahkan terlibat bersama-sama kami dalam aksi itu. Pertanyaannya mengapa mesti membersihkan lingkungan di HalongMardika? Bukan di tempat lain? Saya kira jika para pembaca pernah membaca tulisan saya (“Menghayati Kembali Pengharapan HalongMardika”, dan Nafas Para Pedangan dan Sikap Alam HalongMardika, dll yang tidak sempat saya sebutkan), maka akan tahu dengan sendirinya, mangapa mesti HalongMardika. Disadari HalongMardika memerlukannya, memerlukan aksi itu, memerlukan penanganan yang serius terkait lingkungannya yang begitu memprihatinkan, serta mendesak untuk diatasi.

Lebih daripada itu, setiap pemerhati lingkungan akan tahu dengan sendirinya bahwa, HalongMardika benar emergency lingkungannya. Itulah sebabnya, kami (AM GPM Cabang Bethel, lagi pemuda HalongMardika, dan adik-adik dari UKIM) bertindak lewat aksi nyata untuk membersihkan lingkungan di situ. Fenomena-fenomena yang dijumpai sewaktu beraksi memungkinkan apa yang telah saya sampaikan lewat hambatan-hambatan di atas itu benar-banar ada. Namun akhirnya, selesai juga aksi kami pada hari itu. Meskipun tidak memperoleh banyak perhatian dan kepedulian dari masyarakat setempat, hanya sebagian kecil saja yang memberih perhatian, lagi kepedulian itu. Sebab, hanya sedikit orang di HalongMardika yang tahu bagaimana cara berjalan-jalan di Alam bebas. Dan andai di saat itu ada yang mengatakan pada saya bahwa dirinya sangat mencintai alam, jelas saya langsung tahu bahwa dia sama sekali tidak cinta. Lebih baik saya berjalan ditemani seekor anjing, ketimbang harus mendengarkan pernyataan itu. Namun demikian, kami (saya dan teman-teman) mesti merasa puas dengan awal aksi yang telah dilakukan. Kami pun beristirahat dan masing-masing kami ditemani segelas aqua dan sepotang kue. Itulah cerita pada Minggu pertama.

Pada tanggal 24 Juli 2011, kami kembali melakukan aksi yang sama, yakni, bersih lingkungan di HalongMardika. Masih tetap pada formasi yang sama, dalam hal ini jumlah dan fokus kami tidak berubah. Dengan cuaca yang mendukung kami pun memulainya, memulai melakukan aksi bersih lingkungan. Segala hambatan juga ditemui, tetapi tidak dapat sedikitpun mematahkan semangat kami dalam jeri juang mengembalikan harkat Alam HalongMardika. Terlepas dari hal itu, kami pun puas dengan hasil kerja kami. Setelah itu, kami duduk beristirahat serta mengevaluasikan segala kegiatan kami sambil masing-masing di antara kami ditemani secangkir kopi dan biscuit. Hari pun semakin diselimuti bulan, dan masing-masing di antara kami harus pamit pulang.

Selanjutnya pada hari Minggu, tepatnya pada tanggal 31 Juli 2011, aksi harus dilancarkan. Namun Minggu ini agak berbeda dengan Minggu pertama dan Minggu kedua. Sungguh cuaca sangat buruk (Hujan), dan formasi kami pun berubah dengan drastis. Kami hanya berjumlah lima orang, salah satu hanya berfungsi sebagai juru foto, dia adalah adik saya, Syannette namanya. Hehe!! Dengan modal payung demi mendapat hasil dokumentasi, Syannette mesti ada menemani kami yang sibuk mengurusi sampah sebagai juru foto. Tetapi ada nilai lain di situ. Meskipun kami hanya katakanlah bermodal empat orang (tidak termasuk adik saya), kami tetap menjalankan tugas kami sebagai bagian dari rasa peduli terhadap Alam ini. Kami mengeluarkan segala energi kami untuk menciptakan lingkungan HalongMardika yang bersih. Hujan terus menghantam kami hingga kuyup, kedinginan mulai menyusup dengan perlahan ke seluruh tubuh kami, namun kami tidak gentar menghadapinya. Dengan tujuan yang bulat kami mesti menyelesaikan tugas kami pada Minggu ini. Dan akhirnya selesai juga, meskipun tidak seperti yang kami inginkan. Tetapi paling tidak kami telah memperlihatkan superintens jiwa kami kepada Alam ini. Kami beristirahat dan tentunya juga ditemani dengan secangkir teh panas dan biscuit yang disajikan oleh adik saya, Syannette.

Dari keseluruhan cerita kerdil ini, saya tentunya tidak menemukan upah kerja dalam bentuk uang, saya juga tidak menemukan sponsor yang hebat dari setiap penduduk di situ, bahkan saya sama sekali tidak menemukan pujian yang berlebihan di situ, dan hal ini pun berlaku terhadap teman-teman saya. Sebab, dalam lubuk saya, yang saya cari juga bukan hal itu, uang, sporter, maupun pujian. Namun yang saya temukan dan inilah yang saya cari, yakni, nilai. Nilai akan akal sehat yang berjalin dengan kebenaran untuk peduli terhadap Alam ini, dan yang bila ditambahkan kata-kata, maka yang terucap adalah saya ingin menghirup hawa kehidupan puritan di HalongMardika. Saya ingin melihat dan merasakan rumputan bersemi, udara sarat kicau burung dan ada banyak aneka-warna hijau di situ. Inilah yang saya temukan dan ingin temukan. Saya tidak tahu dengan semua potensi teman-teman saya apakah memiliki visi yang sama dengan saya ataukah tidak. Tetapi saya berharap mereka kiranya bisa menyerupai saya. Sebab, saya perlu memberi batas terhadap teman-teman saya yang terlibat dalam aksi ini. Dalam hal ini batas tersebut berkisar antara teman selaku AM GPM Cabang Bethel, teman selaku pemuda di HalongMardika, dan teman sekaligus adik dari UKIM.

Kalau teman dalam batas AM GPM Cabang Bethel, saya takut kalau-kalau mereka hanya ingin mencapai kepenuhan program yang mereka rancang bersama saya. Ketika progam itu telah mencapai tujuannya, maka sampai di situ saja visi mereka, melebihinya tidak. Itulah yang ditakutkan oleh saya. Tetapi kiranya ketakutan saya itu hanya sebuah kebodohan belaka. Hal yang serupa juga berlaku bagi teman-teman dalam lingkup pemuda di HalongMardika. Namun kiranya saya salah besar dalam memahami jiwa mereka. Selanjutnya mengenai teman sekaligus adik-adik dari UKIM. Saya memiliki banyak pengalaman dengan mereka dalam hal bertindak mewujudkan keterpurukan menjadi nada manis. Tetapi biar bagaimana juga saya kuwatir terhadap mereka. Namun melebihinya selaku orang yang ber-ke-Tuhan-nan, kiranya itu menjadi urusan Tuhan. Karena saya pun tidak bisa menjangkaunya.

Dengan demikian, apa yang kita peroleh dari zaman ini biarlah menjadi sebuh dinamit yang siap meledakkan ketidakharusan, bahkan keterpurukan zaman. Dan biarlah apa yang telah dilakukan oleh saya dan teman-teman bisa menjadi sebuah sistem yang mapan di Kota Ambon. Dalam arti, bersih lingkungan setiap hari Minggu pada lingkup daerah masing-masing kiranya bisa terwujud di kota ini (Ambon). Agar semboyan MANIS E!! yang dikenakannya itu mutlak benar.

Akhirnya saya perlu menyampaikan terima kasih kepada keluarga saya yang selama ini telah mendukung saya. Terima kasih yang sama juga buat, teman-teman GO GREEN (AM GPM Cabang Bethel), pemuda HalongMardika. Dan terlebih lagi terima kasih yang handal kepada, Weslly Johannes, Ronni Tamaela, Yandri Lawalata, Stanley Ferdinandus, Virgino Masahida, Shuresj Tomalueng, Maryo Bernadus, dan George…
(bersambung)

Senin, 18 Juli 2011

“MENGHAYATI KEMBALI PENGHARAPAN HALONGMARDIKA”


Hari ini, lebih dari sebelas tahun sudah waktu-waktu pagi, waktu-waktu petang, waktu-waktu malam ketika kita melewati, melihat, mendengar, dan bahkan menyentu dengan tangan keberadaan identitas HalongMardika yang enggan hampir pudar. Suasana yang mengusai daerah pionir dari Jemaat GPM Bethel ini sebenarnya telah menjadi suasana kumuh, yang secara radikal telah berubah wujud.

Kepastian-kepastian hilangnya identitas tersebut disebabkan karena daerah tersebut mengalami trnsformasi mundur. Dengan kata lain, daerah yang duluhnya di kenal dengan sebutan HalongMardika (kota Ambon) telah menjadi daerah perindustrian, perdagangan, dan bahkan telah menjadi daerah penginapan sepanjang masa dari para pendatang, dan dari sinilah HalongMardika merubah identitasnya entah disengaja atau tidak menjadi “lorong pabrik tahu”.

Mengapa mengalami transformasi mundur? Bukankah dengan adanya perindustrian dan perdagangan yang pesat itu merupakan sebuah kemajuan yang baik? Bukankah lorong pabrik tahu itu sebutan masa kini yang manis di (Ambon)?

Tansformasi yang sedang terjadi di daerah HalongMardika benar-benar memprihatinkan. Kenyataannya ialah bahwa, perindustian yang ada di sana dilakukan di dalam rumah-rumah penduduk (Home industri) yang mana hasil industrinya itu ialah tuhu (pangan), yang limbanya berbahaya bagi alam ini, dan bagi kesehatan manusia. Belum lagi jika dalam dinamika perdagangan di daerah itu, sampah menjadi mayoritas. Di lain pihak, kos-kosan yang telah menjadi penginapan sepanjang masa bagi para pendatang, jika diperhatikan secara jenius memiliki sanitasi yang tidak jelas.

Lantas ekologi menagis, dan mungkin akan berteriak sudah cukup saya tak tahan lagi!
Dari hal ini, HalongMardika berpengharapan agar namanya bisa kembali dikenal oleh khalayak. HalongMardika berpengharapan agar alamnya bisa bersiul asyik tanpa di tusuk dengan limbah maupun sampah. Dan HalongMardika berpengharapan seperti ini bukan karena sikap keras kepala, melainkan karena keharusan seksistensial, konkret. HalongMardika mesti memiliki pengharapan. Sebab, tanpa pengharapan perjuangan HalongMardika akan lemah dan goya. HalongMardika memerlukan pengharapan yang kritis seperti halnya seekor ikan memerlukan air yang bersih, tak tercemar. Akan tetapi tanpa perjuangan pengharapan HalongMardika akan menjadi buyar, kehilangan arah tujuannya, dan berubah menjadi hilangnya pengharapan.

Inilah beta HalongMardika.

Nafas Para Pedagang dan Sikap Alam Halong-Mardika

Setiap revolusi bermula dari pendapat pribadi, dan manakala revolusi itu kembali menjadi opini pribadi, ia akan menyelesaikan persoalan zamannya. Fakta yang dipaparkan orang harus selaras dengan sesuatu dalam diri saya, agar bisa terpahami [R Waldo Emeerson].

Pikiran di atas ini merupakan anak kunci bagi saya melangkah dalam memproyeksikan raca cinta saya bagi alam sekaligus rasa penyesalan yang tak terbantahkan dari dalam diri saya bagi para eksploitasi yang ada dilingkungan tempat tinggal saya (Halong-Mardika). Dengan kaku jari saya mulai melantunkan ritme esai ini, esai yang selama ini menjadi kegelisahan pikiran dan jiwa saya , dan juga kegelisahan beberapa anggota masyarakat Halong-Mardika (asli). Dari sini, barangkali saya, termasuk beberapa anggota masyarakat di Halong-Mardika hanya baru sampai pada titik kegelisahan, namun setidaknya ini adalah hal yang baik bagi kami untuk memulai memperbaikinya.

Lantas apa yang merupakan kegelisahan kami? Dan apa pula yang akan kami lakukan untuk memulai memperbaiki? Singkat kata, memperbaiki apa?
Bagi saya, sebelum malangkah jauh ke tujuan esai ini, akan lebih baik jika saya menjawab lebih dulu dua pertanyaan di atas. Kegelisahan dan memperbaiki. Ada apa sehingga saya dengan tegasnya bersama beberapa anggota masyarakat di Halong-Mardika gelisah. Kami gelisa dengan alam kami yang telah dieksploitasi habis-habisan oleh para pendatang yang berjubah pedangan. Kami gelisa melihat mereka dengan seenaknya merusak lingkungan kami. Namun demikian, kami tak punya banyak kemampuan untuk menegur bahkan bertindak radikal terhadap mereka. Sebab, barangkali ini dosa bagi kami, barangkali kami bersalah karena selama ini terbungkam dalam kebudayaan bisu. Barangkai juga di antara kami ada yang telah mengalami kemerosotan ekonomin sehingga tanpa berpikir jernih telah menggontrakkan, bahkan menjual habis tanah-tanah kami bagi mereka.

Tetapi masih ada sisa di antara kami (Masyarakat Halong-Mardika asli) yang sudah menjadi minoritas di tanah kami, yang mau untuk memperbaikinya. Memperbaiki alam kami, lingkungan tempat tinggal kami.

Tiada yang dapat menjabarkan manusia selain segenap sejarahnya. Untuk itu, tanpa tergesa, tanpa berhenti, jiwa saya maju terus dari awal untuk menyerap tiap kemampuan, tiap pikiran, tiap emosi yang menjadi fitrah masyarakat Halong-Mardika asli untuk bersama menyaksikan peristiwa-peristiwa hari ini, fakta-fakta dalam sejarah Halong-Mardika sebagai bentuk kaidah-kaidah yang pada prinsipnya mesti terawat baik. Sebab bagi saya, pikiran dan perasaan masyarakat Halong-Mardika asli paling tidak menuliskan sejarah, dan mereka mesti membacanya pula. Dari situlah, maka upaya untuk memecahkan teka-teki yang terkesan sulit menjadi tanggungjawab barsama. Teta-teki tentang alam.

Berbicara mengenai Halong-Mardika saat ini, itu berarti tidak hanya mesti melihat kehidupan orang Halong-Mardika yang asli, yang masih menetap di Halong-Mardika saja. Namun demikian, mesti juga melihat kehidupan para pendatang yang berjubah pedagang. Para pendatang yang mungkin-mungkin saja akan hidup sepanjang masa di Halong-Mardika, yang sekaligus mencari sesuap nasi di situ.

Dari hal ini, maka upaya untuk mempersalahkan orang Halong-Mardika asil tidak mesti menjadi perdebatan serius dalam esai ini, dan upaya untuk mempersalahkan para pendatang berjubah pedangan juga tidak mesti dipaparkan atau diperdebatkan. Sudah cukup keadaan saat ini, yang mana orang Halong-Mardika asli telah lalai dalam siklus peradaban mereka. Sudah cukup keadaan saat ini, yang mana para pendatang juga telah lalai dengan mendirikan perindustrian, yang menghasilkan limbah di kawasan Halong-Mardika. Mendirikan pertokoan, tempat tinggal yang mungkin saja sanitasinya kurang jelas, karena bagi mereka (kita hanya semetara di sini, dan kalaupun selamanya tinggal di sini, tidak perlulah pusing kepala dengan lingkungan/alam di sini), mendirikan warung makanan, yang semuanya itu mendatangkan sampah yang berlebihan. Inilah penilaian subjektif saya, yang saat ini sementara mencari data valid. Data yang bisa membuat semua mata dan pikiran terkejut lalu tertuju untuk melindungi alam di Halong-Mardika.

Di lain pihak, saya tahu bahwa jagat lingkungan yang bercakap-cakap dengan saya di Halong-Mardika saat ini bukanlah jagat yang saya inginkan. Untuk itu rasa gelisa yang telah ada ini rindu untuk berteriak bahwa, kalau valid datanya Halong-Mardika tercemar, bagaimana kehidupan selanjutnya. Satu hal yang mesti diketahui ialah bahwa, kita boleh lalai selama ini, namun kita tidak mesti terus-menerus terlarut dalam mimpi buruk itu. Para pendatang yang berjubah pedagang boleh-boleh saja mencari nafas di tanah yang entah sudah menjadi miliknya ataukah belum.

Namun mereka mesti sadar bahwa alam di Halong-Mardika telah menuntut untuk segera diperbaiki. Para pendatang yang mencari nafas hidup di Halong-mardika mesti tahu bahwa, kalau mereka bisa bersama-sama dengan orang Halong-Mardika asli memperbaiki alam sebagai tempat tinggal bersama, maka keindahan yang lebih rahasia, lebih manis, dan lebih dahsyat akan hadir di hadapan mereka. Dan ini pula yang harus menjadi kunci bagi orang halong-Mardika asil untuk ada bersama mereka (pendatang berjubah pedagang) dalam hal memperbaikinya.

Sederhana, tetapi memerlukan kesadaran yang terdalam untuk melakukannya. Orang Halong-Mardika asli, seperti yang saya telah katakan di atas memiliki memori sajarah tentang lingkungan mereka dahulu. Memori itu bisa dipakai sebagai nada dasar untuk memecahkan teka-teki keburukan alam Halong-Mardika saat ini. kalau bentuk dinamika alam berdasarkan sejarah di Halong-Mardika itu baik pada awalnya, maka dinamika tersebut mesti menjadi jalan terhadap kondisi saat ini. Untuk itu orang Halong-Mardika yang telah menjadi kecil di tanahnya mesti membuka kembali lautan memori mereka tentang bagaimana caranya menjaga lingkungan agar tetap bersih. Dan orang Halong-Mardika asli mesti mempraktekkannya dalam kehidupan saat ini, dan mesti menjadi contoh konkrit bagi mereka yang datang sebagai pedagang. Dengan kata lain, orang Halong-mardika asli mesti membuka diri terhadap suara hati untuk memulai menjalankan momori sejarahnya, dan orang Halong-Mardika asli sekaligus para pendatang mesti mandiri dalam memelihara alam di sekitar mereka sebagai tempat huni bersama.

Dengan demikian sesuap nasi itu penting bagi para pendatang. Tetapi terlebih pentingnya lagi alam ini mesti dijaga, dirawat dengan sebaik mungkin. Bukan dieksploitasi demi kepentingan kelompok, atau individu. Agar semunya bisa selaras. Kalau para pendatang yang berjubah pedangan ingin menghirup aroma sedap di dalam alam Halong-Mardika, dan selalu ingin menghirupnya sebagai bagian dari nafas maraka, maka mereka mesti tahu cara yang tepat untuk mengatasih limbah yang telah mereka hasilkan dari hasil produksi. Mereka mesti tahu jalur atau saluran yang tepat bagi limbah tersebut, bukan dengan sengaja dilantarkan. Mereka mesti tahu cara yang tepat untuk mengatasih sampah yang mereka datangkan, bukan mengubrak-abrikkannya begitu saja. Mereka mesti tahu cara yang tepat untuk membangun sebuah sanitasi, bukan mengapungkannya di tanah ini.

Namun dari keseluruhan ini, biarlah orang Halong-Mardika asli yang memulainya. Sebab, mereka tahu persis sikap alam di tanahnya. Upaya memulai hanya sebagai embrio bagi segala insan yang ada di tanah Ambon-Maluku (Halong-Mardika).

Catatan :
- Saya mencapai alur gagasan ini berkat paradigma Ralph Waldo Emerson.

- Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya "Menghayati Kembali Pengharapan Halong-Mardika".

- "orang Halong-Mardika asli, dalam pengertin orang-orang yang puluhan, bahkan ribuan tahun telah tinggal di sebuah tempat di kota Ambon-Maluku, yang mana tempat itu di sebut Halong-Mardika", dan saat ini mereka telah menjadi minoritas di situ.

- Pendatang berjubah pedangan adalah orang-orang yang pasca konflik datang ke Ambon-Maluku untuk mencari hidup dan telah tinggal di Halong-Mardika (Mayoritas).

- Lebih baik juga kalau telah membaca tulisan Go Green (semacam karangka acuan kegiatan) dalam catatan-catatan saya.

- Terima kasih untuk Virgino Masahida, Weslly Johannes, Roni Tamaela, Yandri Lawalata, Shuresj Doing, dan kawan-kawan Go Green.

Go Green


Pasca konflik kemanusiaan yang berlangsung di Maluku sejak tahun 2004 hingga sekarang, nampaknya memberikan implikasi yang merugikan bagi tatanan kehidupan masyarakat Maluku pada umumnya dan masyarakat Kota Ambon pada khususnya. Salah satu implikasi yang begitu menonjol dalam kehidupan masyarakat kota Ambon adalah segregasi penduduk berdasarkan basis komunitas agama yang kemudian berdampak pula pada pola-pola relasi yang terbangun dalam masyarakat.

Segregasi penduduk itu sendiri telah menghadapkan kota Ambon pada beberapa persoalan mendasar, seperti sanitasi lingkungan yang tidak sehat, penumpukan sampah, pencemaran lingkungan dengan limbah rumah tangga sebagai akibat dari pembangunan rumah-rumah penduduk yang baru.

Selain itu, upaya mempertahankan hidup (aspek ekonomi) di atas pemukiman yang baru, ditempuh dengan pembangunan home industry yang tidak memperhitungkan dampaknya bagi lingkungan hidup sekitar.Realitas ini dijumpai pula pada kawasan Mardika (tepatnya “Halong Mardika”), Kota Ambon. Jika sebelum konflik Maluku, kawasan ini terkenal dengan lingkungannya yang rapi, bersih, tertib serta interaksi sosial yang berlangsung dengan baik, tetapi setelah konflik Maluku, kawasan ini memperlihatkan wajah yang tidak enak dipandang.

Berpindahnya sebagian penduduk Halong Mardika ke kawasan lain yang dianggap tenang selama dalam konflik, disertai dengan penjualan tanah-tanah mereka, mengakibatkan arus pendatang di kawasan Halong Mardika itu berlangsung pesat.

Para pendatang itu tidak hanya membangun rumah untuk tempat tinggal saja, melainkan juga mereka membangun home industry sebagai mata pencaharian mereka. Selain itu, deretan rumah kost pun terbangun di kawasan Halong Mardika. Fenomena ini kemudian memunculkan masalah serius terhadap lingkungan.

Beberapa fakta yang dirasa perlu untuk diuraikan dalam bangunan Term Of Reference ini sebagai dampak dari pembangunan pemukiman baru, pembangunan home industry serta rumah kost di kawasan Halong Mardika, dan sekaligus menjadi perhatian serius berbagai komponen dalam rangka menanggulanginya, antara lain : tersumbatnya saluran air (got) yang berdampak banjir di saat hujan, adanya tumpukan sampah yang berlebihan, infrastruktur jalan yang porak-poranda, kepadatan penduduk di mana ada sebagian penduduk berstatus “liar” alias tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), serta lingkungan yang terlihat gersang.

Secara khusus, fakta kehadiran home industry (pabrik tahu) yang didirikan oleh para pendatang, pertokoan, pedagang kaki lima serta penjual makanan keliling di kawasan Halong Mardika harus mendapat penanganan khusus.

Dari segi kesehatan, “home industry” memberikan efek yang membahayakan bagi masyarakat setempat. Misalnya, kotoran atau limbah dari hasil produksinya mempengaruhi sistem pernafasan dari warga sekitar, polusi suara, bahkan polusi air telah menjadi dampak dari kehadiran “home industry” ini. Padahal keberadaan home industry dalam suatu areal pemukiman, harus mendapatkan izin usaha dari pemerintah Kota Ambon. Dan pemberian izin itu juga sudah harus memperhitungkan dampaknya bagi lingkungan sekitar. Terkesan, home industry yang berada di kawasan Halong Mardika tidak memiliki izin, sehingga legitimasi usaha mereka tidak kuat secara hukum.

Selain itu, para pendatang yang bekerja sebagai pedagang di kawasan Halong Mardika, tidak memiliki tempat sampah untuk membuang bungkusan atau kotoran yang dihasilkan dari jualan mereka. Akibatnya kawasan Halong Mardika juga dipenuhi dengan sampah atau kotoran yang bertebaran di sana-sini.Realitas suram yang menimpa kawasan Halong Mardika harus disikapi secara arif melalui aksi-aksi sosial sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi penataan lingkungan setempat.

Kegelisahan akan wajah lingkungan di kawasan Halong Mardika yang sudah sangat memprihatinkan itu, kemudian mendorong Angkatan Muda GPM Cabang Betel sebagai sebuah organisasi kader dan pelayanan untuk terlibat dalam aksi-aksi sosial yang bertujuan untuk menata kembali kawasan Halong Mardika sehingga terlihat bersih dan rapi. Keterlibatan Angkatan Muda GPM Cabang Betel dalam aksi sosial dimaknai sebagai refleksi imannya di tengah kerusakan lingkungan yang sangat akut, sembari menghadirkan pemulihan lingkungan demi kesejahteraan bersama. Aksi-aksi sosial itu tidak bermaksud untuk menutup semua peluang usaha yang sudah dijadikan sebagai mata pencaharian oleh masyarakat yang sementara bermukim di kawasan Halong Mardika. Akan tetapi aksi sosial ini dilakukan dalam upaya memperbaharui saluran air (got) yang sudah tersumbat oleh sampah penduduk, penataan jalan masuk ke dalam pemukiman Halong Mardika, pembuatan gapura, penyediaan tempat pembuangan sampah, menggerakan masyarakat di kawasan Halong Mardika untuk menjaga kebersihan lingkungan, serta penataan home industry yang berada di kawasan Halong Mardika dalam koordinasi bersama dengan Lurah.

Selain tujuan utama aksi sosial ini untuk menata lingkungan Halong Mardika supaya tetap bersih, rapi dan sehat, akan tetapi seluruh gerakan penataan lingkungan yang dimotori oleh Angkatan Muda GPM Cabang Bethel ini pun dilakukan dalam kerangka menggemakan perdamaian di masyarakat, secara khusus di kalangan pemuda Halong Mardika dan Pemuda Batu Merah. Dengan kata lain, Angkatan Muda GPM Cabang Bethel, secara kreatif berupaya menjadikan seluruh gerakan penataan lingkungan ini sebagai media untuk membangun rekonsiliasi atau perdamaian di kawasan Halong Mardika dan Batu Merah. Karena itu, kegiatan aksi sosial untuk menata lingkungan Halong Mardika dilakukan secara bersama-sama dengan pemuda Batu Merah.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya sadar Angkatan Muda GPM Cabang Bethel untuk mengawal ikatan-ikatan damai yang sudah terbangun dalam masyarakat pasca konflik, sekaligus menggerakan perdamaian itu pada basis masyarakat, dan bukan pada basis elit yang terkesan tidak mengakar dalam masyarakat itu.

Peristiwa ricuh yang terjadi pada tanggal 23 Januari 2011 yang melibatkan pemuda Mardika dan Batu Merah menjadi bukti betapa potensi konflik di masyarakat semakin terbuka sebagai akibat dari upaya-upaya damai yang hanya berlangsung di kalangan elit dan tidak menyentuh sampai pada level masyarakat. Dengan demikian, kampanye-kampanye damai itu harus benar-benar digerakan oleh masyarakat itu sendiri, sehingga kebekuan-kebekuan relasi dan komunikasi dalam masyarakat dapat dicairkan.Upaya merajut damai melalui penataan lingkungan yang melibatkan Angkatan Muda GPM Cabang Bethel dan pemuda Batu Merah adalah strategi untuk mencairkan kebekuan komunikasi, sekaligus menjadikan isu lingkungan sebagai isu bersama untuk disikapi dalam rangka menyelamatkan lingkungan hidup dari ancaman kepunahan.

Isu lingkungan ini dipakai sebagai media perdamaian sebab semua umat beragama, baik Isalam, Kristen maupun agama-agama lainnya terpanggil untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, rapi dan sehat sebagai sebuah rumah bersama yang penuh kedamaian dan kesejahteraan.

Blogger templates