Halaman

Tampilkan postingan dengan label Cerpen dan Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen dan Prosa. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2012

“Teruntuk Keluarga Berhitu di Halong-Mardika”


Aku telah memberikan hati dan perasaanku kepada kebisuan, agar tak berbicara di saat ini. Otak dengan segala saraf yang ada di dalamnya hendak kuikat dengan baja. Sehingga berbisik pun tak bisa. Apakah aku salah, bahwa aku mempunyai perasaan namun telah kuberi bagi kebisuan? Apakah aku salah, yang memiliki otak namun hendak mengikatnya dengan baja. Aneh sekali, mustahil jika hal itu dapat tercapai. Maafkan kebodohanku. Yang kutahu bahwa aku sekarang melihat diriku dengan jelas sendiri.

Matahari masih saja bercahaya dengan wajahnya yang bersih menampak pada langit yang tenang. Kenangan-kenangan datang dengan bergurau dan berjenaka atau tersenyum dengan manisnya. Dan aku menekan hatiku, napasku, karena aku merasa terpesona sangat.

“Ingatkah kau,” mereka berbisik. “teringatkah kau waktu…”

Ah, aku menjadi gelisah, berdiri dan mundar mandir di dalam kamar mungil. Kemudian duduk lagi. Natal kali ini aku, aku… Ah, tak bisa kuterusan. Tak pernah, tak pernah diriku sendiri.

Jika tanggal 24 Desember, lampu-lampu di kotaku bercahaya terang. Cahayanya menikam ke perut bumi, sehingga segala yang hidup saling bertabur damai. Dan sudah pasti di rumahku, dari ujung dapur hingga celah-celah kusen jendela dan pintu kebaya depan rumah, aroma wangi bluder sageru tetap terapung-apung mengikuti arah angin.

Aku mengingat-ingat wajah-wajah kalian. Satu demi satu kuingat. Kubayangkan dalam-dalam. Oh! Tak ada kekuatan untuk menolak keceriaan yang telah datang, menampakkan diri di dalam hati kalian. Kalian tertawa dengan nada yang empuk dan membuat orang lain tertawa juga. Kalian sering berbagi pandangan mata yang berkilau, halus. Ah, macam jantungku yang biasanya berdegup teratur, mendadak berdegup kencang. Ya! Aku mengingat keseluruhan dari kehidupan kita.

Air mata telah tergenang dalam mataku. Aku tak sanggup menahannya. Pohon mangga di samping kamarku, dengan tenang menggerakkan daunnya. Pohon cempaka menggoyangkan puncaknya yang gelap itu. Bunga seperti hujan yang harum, jutuh ke bawah. Sungguh aku merindukan kalian.

“Lucas, Christina, Syannette, dan Zurisya. Sedang apakah kalian? Oh demi Tuhan…. Christina, tiba-tiba aku mencium aroma kueh buatanmu di sini. Aku merasa senang. Aku tak tahu apa benar nyata, atau imajiku. Namun aroma kueh buatanmu baru saja mengepul hidup di dalam kamarku ini. Dua puluh tujuh tahun aku hidup bersamamu. Aku tahu benar aroma kueh buatanmu, Christina. Aku merindukanmu. Aku benar-banar merindukan pelukanmu, tatapanmu yang bersinar-sinar. Dan aku pun merindukan masakanmu. Ah, Christina, pipiku telah berbasah. Air mata tak dapat sudah kutahan.

Luc, bagaimana kabarmu? Apa kau sudah sering pergi ke Gereja? Sejak kita keluar dari Hila, tak ada kulihat dirimu sering ke Gereja lagi. Tak tahu aku, kenapa sehingga dirimu begitu berubah. Hee, barangkali yang membuatku tak tahu itu kerena alasanmu yang terlalu banyak. Kau sering berkata, “aku tak ada sepatu untuk ke Gereja”. Jika sudah ada sepatu, kau kembali berkata, “aku belum punya cukup uang untuk membeli kemeja”. Lalu ketika kemeja dan sepatu telah ada, kau kembali berkata, celanaku untuk ke Gereja tak cocok dengan warna sepatu dan kemeja. Kau memang suka bergaya. Tapi kau seperti tak mengenal Tuhan saja. Ke Gerejalah, jika belum lagi kakimu merangkak ke situ. Percayakan saja dirimu seluruhnya untuk Tuhan yang atur. Aku yakin, kau pasti senang. Tatapan matamu yang sering terlihat kosong akan redup dan memudar perlahan. Sehingga tak kau rasa kalau bintangmu telah datang, bercahaya dengan berseri-seri di atas langit biru. Aku merindukanmu Luc. Merindukan bentakkanmu dan kebisuanmu saat menatapku.

Hai Syannette! Kau pasti terlihat cantik di hari ini. Sudah kuduga, kau pasti ke salon merapikan rambutmu yang keriting itu, bukan? Syannette, aku di sini merasa sedih dan bersendiri. Aku merasa jarak kita terlalu jauh. Juah seperti bulan dan bumi. Aku tak dapat lagi mendengar waktu lonceng Gereja berbunyi untuk kedua kalinya, dengan tegas dan lantang engkau lalu berteriak menyuruhku cepat keluar dari kamar mandi. Bertanda aku harus cepat siap-siap, Gereja hampir mulai. Aku, aku merindukanmu, Syannette. Sangat. Cepatlah selesaikan sekolahmu itu.

Zurisya! Ah, Zurisya mana senyum ceria dan menawan yang biasa tersungging di bibir tipismu. Sejujurnya aku tak pernah melihat ekspresi aneh dari pengharapan yang membosankan pernah tercermin di dalam matamu. Yang kutahu dan kulihat, disekelilingmu bertabur kerikil dari bulan yang membentuk bunga angrek. Aku merindukanmu, Zurisya. Aku merindukan kalian semua.

Dengan patuh, bibirku tidak mampu lagi mengucap sapatah kata pun. Ratusan puisi tentang cinta jika kupunya, akan kupandu puisi-puisi itu, membiarkannya berbicara sendiri tentang cinta kepada kalian berempat dan memeluk kalian dengan jantungnya.

Di sekelilingku sunyi, angin mendesir melalui rumah-rumah dengan dingin. Suara cicak di kamarku terdengar datar, bisa membuat orang jadi mengantuk. Seekor lalat baru saja terbang pergi setelah menabrak kaca jendela. Aku mulai membisingkan kamarku dengan lagu-lagu Natal. Michael Buble Cold Desember Night… ah, aku merasa itu lagu yang baik. Aku bisa berhenti menulis sebentar untuk mengambil napas.

Aku ingin minta maaf dari kalian berempat. Aku sampai sekarang masih menunggu hasil dari perjalanan yang kalian restu. Maaf pula tak bisa bersama-sama kalian di hari ini. Aku rasa, ini bukanlah sesuatu yang kebetulan. Tak ada yang kebetulan. Segala sesuatu ada alasannya. Semua ini hanya untuk mengangkat harkat kita melebihi dewan Tuhan. Akan kupastikan perjalanan ini bagi kalian berempat.

Eh, apakah kalian ingin mendengarkan cerita tentang diriku? Walau hanya sedikit, tetapi aku ingin membagikan ceritaku ini kepada kalian. Hahaha…. Jadi malu aku. Sejujurnya aku sangat bahagia. Namun sekali-sekali tidak bisa kubendung perasaan, aneh, rusuh, yang hidup bertebaran di dalam hatiku. Tapi sudahlah, aku bisa mengatasinya.

Stt! Hei… Kalian mengenal Iaa, bukan? Di antara kalian, Syannet yang sudah melihatnya. Bagaimana Syannet, bagaimana perasaan dan penilaianmu? Iaa luarbiasa bukan?

Iaa perempuan yang sangat kucintai. Tak ada kalian, Iaa yang selalu menemaniku. Menjadi pemikirku. Dan satu tahun telah berlalu antara aku dan Iaa. Aku betul-betul mengetahui kalau hatiku sangat teramat mencintainya. Iaa bukan saja mamberi oksigen untuk mempertamba napasku. Namun parasnya, hatinya, pikirannya, membuat perkataan-perkataan nampak tak punya arti. Halus, lembut, dan mempesona. Bagai embun pagi yang kian berpelukkan bersama dedauan, Iaa menampilkan sikapnya kepadaku.

Semua yang kulalui nampak tenang. Dengan nada yang genit aku sering menghabiskan waktu bersama Iaa. Dan Iaa selalu melemparkan suaranya yang manja kepadaku. Hari-hari kemudian, aku akan memperkenalkannya kepada kalian berempat. Bagaimanapun juga, Iaa adalah aku. Iaa adalah napasku, sama seperti kalian.

Berkali-kali jalan di bawah kamarku ini sepi lagi tak ada orang lalu di situ. Cahaya bulan yang jatuh ke bumi seolah menari-nari pada waktu malam yang telah datang hari ini, tenang dan terang. Aku belum juga menyelesaikan surat ini. Tak tahu aku mengakhirinya.

Namun harus sampai di sini dulu. Sudah malam, dan aku belum bersiap-siap untuk menyambut Natal. Aku sangat mencintai kalian. Aku bermimpi, cahaya matahari akan kukantungi, dan bersama Iaa, aku akan bertemu kalian kembali. Bertemu di rumah yang pernah menaungiku dari panas dan hujan. Aku yakin, kalian akan memandangnya tak heran. Syannet, Zurisnya dengan senang hati kalian berdua akan bercerita-cerita bersama Iaa di atas tempat tidur. Sungguh keluargaku, aku sangat sayang padanya.

Tak ada kalimat-kalimat yang manis, yang hendak kukatakan untuk menggakhiri suratku ini. Namun Sang Hidup pembawa damai akan selalu bergelora mendampingi kita semua. Aku akan menyurati kalian kembali. Luc, selamat Natal. Engkaulah lelaki yang mendidikku dengan kata maupun dengan pukulan. Terima kasih, karena didikan itulah yang membuat aku masih berdiri tak retak. Selamat Natal Cristina. Engkaulah cinta pertamaku. Syannette dan Zurisya, selamat Natal kuucapkan kepada kalian berdua.

Ah, tangan-tangan yang lembut, keras, berurat, tak dapat lagi kupegang. Pelukan-pelukan yang manis sudah jauh, jauh sekali. Barterima kasihlah kepada bintang-bintang yang telah datang di malam ini. Berhamburan, saling bercerita dalam cinta dan damai!



Jogya, 24 Desember 2012
Aprino Berhitu.



Senin, 28 Mei 2012

Kata Cinta


Andai aku dapat berbicara, maka aku akan bilang; pergilah ke balik sekat hati dan bebaskalah aku.

Aku tidak ingin dikenakan baju, aku bebas.

Andai aku dapat berkata-kata, maka dengarkanlah; anak muda yang patut dikasihi dan saling mengasihi tak pantas menipu.

Jika aku dapat berbincang-bincang denganmu, aku ingin sampaikan satu hal; aku tak suka bila ada kesedihan. Hidupkanlah corong hatimu.

Jika sesekali aku dipekenankan untuk memilih, maka hanya ada dua hal yang kupilih; membisu di saat rusuh hati lalu menangis di saat gembira.

Aku bukan pedang yang digunakan untuk membunuh. Namun tajamku melebihi pedang, yang dapat mencabik kekasaran jika terjadi pada diriku.

Perlakukanlah aku secara halus. Aku kuat melebihi maut.

Tidurlah di dalam rongga dadaku, jika engkau mau. Aku tak akan pernah keberatan dan tak akan pernah keberatan kawanku.

Pelan-pelan aku harus bangkit dan memasukkan diriku ke dalam setiap episod tatapan dan perkenalan dua insan berkelamin beda.

Aku berterima kasih jika engkau selalu memberikan kebebasan kepadaku. Aku tak ingin dipenjarahi oleh keegoisan.

Aku tak akan mungkin bernafas, ketika awan hitam masih menghiasi kantong hati.

Aku bersungguh-sungguh jika ada kejujuran.

Ceritakanlah pada setiap rahim, tuliskanlah di sepanjang jalan rusuh, dan ukirlah di atas langit tentang diriku, CINTA.

Senin, 14 Mei 2012

"Karaktermu"


Langit jernih, sejuk rasanya. Kebiruannya yang ditemani bintang menyelapkan kegelisahan dan duga-sangka. Ke mana mata ini diarahkan, diri sendiri juga yang nampak; depan, belakang, samping, seluruhnya. Hanya diri ini yang ada. Tak ada teman, tak ada pula cerita. Hanya saja musik setia menemani.

Begitulah keberadaanku pada sebuah malam sepi. Apa pun cerita hari esok, kesuksesan atau keceriaan tetap sama saja. Ketegangan hari esok, entah kecil atau besar akan membikin kau lelah. Tapi terpuaskan. Menduga-duga, esok itu seperti apa dirimu. Biarlah yang terjadi adalah kelancaran demi ketentraman hatimu.

Aku memanggilnya Iaa. Dan telah aku timbang, belum tentu benar tampilan Iaa di hadapan mata orang lain. Tapi bagiku, Iaa seterusnya benar. Aku bahkan lebih mempercayainya daripada mempercayai diriku sendiri. Hmm! Aku merasa kalau manusia itu selalu menepuk dadanya ketika berhasil. Namun sekiranya Iaa tidak seperti itu. Selayaknya ratu dari sang dewa. Biarlah engkau selalu bersahaja, jantungku.

Bulan sebentar lagi akan pergi dari atas atap bangunan yang sementara kunaungi. Dan betapa jauh jarak kita, Ambon-Jakarta. Mungkin ribuan mil jarak tempatku duduk dengan dirimu yang sedang tidur. Sudalah, biar perasaan rindu ini disimpan. Tak berani aku menyatakan perasaanku pada siapa pun. Selain dalam tulisan yang berspasi ini. Aku hanya ingin mengandai-andai; menakjubkan, menakjubkan, menakjubkan.

Iaa, lagu tentang karaktermu sebentar lagi akan dinyanyikan. Jika kau terbangun. Bergegaslah angkat sembahyang bagi “Tete yang Manis” itu. Lalu pergilah ke kamar mandi. Siramlah tubuhmu yang wangi dan halus. Kebaya masadepanmu tentu sudah disetrika dengan rapi oleh ibumu. Beliau telah menaruhnya di atas tempat tidurmu. Ketika engkau selesai memandikan tubuhmu, kenekanlah. Seterusnya ikatlah rambutmu seperti yang diajarkan oleh ayahmu. Engkau pasti mengetahui caranya agar ikatan rambutmu itu tetap kuat. Kuat seperti baja. Bukankah ikatan seperti baja itu yang diajarkan oleh ayahmu? Lalu riaslah wajahmu sedikit saja. Jangan terlalu banyak pegawetnya. Sebab pengawet tak berguna sedikitpun bagi pengusuhmu, ketika ia menyajikan santapan pagi. Nasi kuning.

Bergegaslah mengenakan sepatumu. Sudah sekian lama engkau telah berjalan dengan kaki telanjang mencari sepatu itu. Sepatu prestasi sekaligus keberhasilan. Jangan pernah engkau mencucurkan air mata di hari esok. Hari dimana kakimu akan melangkah menaiki podium wisudawan-wisudawati. Tak ada hak dirimu untuk meragukan hari-harimu. Jangan pernah bersedih cintaku. Esok adalah hari akhir sekaligus awal bagi dirimu menggapai cahaya. Kalau cahaya bulan itu seperti kelereng yang ceper. Cahaya yang menghampirimu adalah cahaya suci. Diturunkan langsung dari para dewa. kaulah sang pencarak cahaya. Pasanglah telingamu baik-baik. Dengarkanlah seruan selamat dari saudara kandungmu. Dia sangat menyayangimu.

Kemudian aku duduk diam-diam dengan memandang jauh – jauh sekali, dirimu yang manis. Berlutut, memelihara lidah sebelum menaikan syukur pada sang pemberi hidup. Bibirku mengeletar kering. Gigiku tak sempat disikat. Aku melangkah perlahan mendekati jiku tembok. Menyatukan jari-jari, siap hendak sembahyang. Lidah bernari dalam gelap mulut. Ucapan yang hanya patut didengarkan; maaf sekaligus terima kasih. Dan yang terhebat dari semua ucapan itu; sesuatu yang menyangkut azas hidup Iaa dan azas hidupku dalam kenyataan hari sekarang lagi esok. Aku sungguh mencintaimu, Iaa.

Kau aku selamanya bersama. Begitulah bibir merahmu berbisik kepadaku. Lalu degarlah bibirku yang bergetar ini berbisik kepadamu; Kekasiku, Sarjana Teknik yang akan kau kenakan itu bukanlah sebuah titel atau juga gelar. Itu adalah karaktermu. 

"Kapitan"; panggilan Tuhan bagi Pattimura


Kalaupun ini adalah cerita sejarah, ia adalah sejarahku.

Aku memang tidak menceritakan sejarah sebagaiman terwarta dalam buku-buku sejarah yang dingin yang dikenal waktu sekolahan. Aku hanya ingin menceritakan pengetahuan kesilamanku yang lazim tentang seorang “kapitan”. Kapitan dari tempat dimana aku berdiri lalu berlari mengejar bintang yang sisi-sisinya jika dilihat dari kejahuan persis seperti ujung parang. Lalu tengahnya persisi seperti salawaku.

Tentu dada dan otak ini menjadi padat. Mata melotot, serta wajah menjadi agker. ketika mengingat sekali lagi perkataan opaku Petrus Tuhuteru, padaku tempo dulu. Ketika itu, dalam sebuah rumah beton di Hila. Desa yang ditutupi biru laut dan hijau pohon. Opaku sementara bermalasan di atas kursi malas depan teras. Beliau berkata; Pattimura itu gagah, Dia jago sekali. Dia adalah sosok yang tak pernah mengenal kompromi. Apalagi berhianat. Pattimura relah mati digantung demi tanah raja-raja ini. Dalam pertempurannya melawan Belanda, Ia berhasil meduduki benteng Duurstede, milik Belanda di Saparua sana. Ia tak mau kalau rakyat Maluku ini menderita, tertindas. Karena itu, Ia melakukan pemberontakan demi pembebasan. Kehormatan diri, kehormatan daerah ini (Maluku) selalu dijaganya. Hebat kapitan Pattimura itu.

Panjang lebar cerita opa kepadaku tentang Pattimura. Namun yang masih tersimpat dalam pikiranku hanya separuh, bahkan kecil sekali. Aku yang saat itu belum paham dengan baik tentang perjuangan, hanya mendegar dengan mulut terbuka, disisinya. Dan tanpa barpikir banyak hal, aku mempercayai setiap perkataan opaku tentang sang revolusi.

Waktu berjalan terus. Daun-daun berguguran, yang coklat berganti hijau. Aku beranjak besar. Di sekolah dasar aku pun diajarkan tentang sosok Pattimura. Dari sejarah perjuangannya sampai pada kematianya yang tragis.

Kapitan digantung. Itulah akhir dari perkataan guruku di depan kelas kepadaku serta teman-teman sekelas. Mandegar kata kapitan, aku mengingat-ingat kembali cerita opa waktu di teras rumah. Kapitan. Apa itu kapitan? Ah..! mungkin itu adalah sebutan yang biasa dipakai bagi para pejuang dahulukala oleh masyarakat Maluku.

Semakin hari pikirku mulai terganggu dengan kapitan. Aku pun lalu menyebutnya kapitan Pattimura, kapitan cengkih dan pala. Bukankah itu sebuah lirik lagu? Oh iya… itu lirik lagu. Lantas apa itu kapitan?” Ah! Sudalah, itu hanya sebuah istilah.
Sewaktu pulang dari sekolah. Persis di depan pintu gerbag benteng Amsterdam, aku berdiri. Batu kecil diambil dari tepian aspal. Kulemparkan ke atas lagit desa Hila. Nyaris batu jatuh mengenal ujung daun pohon ketapang dikintal benteng. Aku kembali bermain dengan pikiranku sendiri. Apa itu sebenarnya kapitan. Apakah benar itu hanya sebutan biasa? Apakah itu hanya sebuah istilah yang tidak banyak disukai perempuan? Ataukah itu adalah panggilan Tuhan bagi Pattimura? Akanku cari tahu.

Umur mengharuskanku beranjak ke jenjang sekolah lanjut. Ke Ambon, tepat di SMP Negeri 6, aku menduduki kursi kayu. Di depannya meja persegi empat yang telah patah ujungnya. Aku menjamu ilmu di situ.

Suatu hari, entah itu kebetulan atau sudah terjadwal. Aku lupa. Tapi aku sepakat kalau itu terjadwal. Pelajaran sejarah dilantunkan. Thomas Matulessy, pahlawan nasional asal Maluku. Diorbitkan di depan kelas. Guruku menjelaskan tentang Thomas Matulessy, sang kapitan itu. Dalam penjelasannya aku tak menemukan sedikitpun pengertian kapitan. Kata kapitan masih saja sama dengan yang ada dalam pikiranku. Sebuah ungkapan biasa. Ia hanya meleberkan didikannya dengan penjelasan yang sudah aku degar sebelumnya. Seakan kapitan itu hanya terbingkai dalam keberanian ketika ada dalam medan perang. Bagaimana ia menggugurkan penjajah dan rela berguguran demi rakyat Maluku. Itu saja.

Arti penting dari kapitan belum kutemukan. Di tempat kelahiranku sendiri lagi ditempat kelahiran Pattimura, ternyata belum kutemukan arti kapitan. Aku tak tahu harus mencarinya dari segi yang mana. Tak pernah itu dikatakan oleh setiap orang yang kujumpai. Terlebihnya guru-guru sejarah.

I5 Mei 1994. Hari kebesaran dalam hidup orang Maluku, dirayakan. Pengetahuanku masih saja lama mendayu-dayu tentang arti kapitan. Serasa lambat. Baju putih bertulis Maluku, bergambar pemandangan Ambon kukenakan pada kemiringan bulan. Di atas trotowar pada jalan Cendrawasi, kududuk berdempetan menanti obor Pattimura. Parang digosakan di atas aspal. Butiran-butiran api seakan meloncat keluar dari ketajamannya. Salawaku bernari-nari dalam genggaman tangan. Marinyo berteriak. Tahuri dibunyikan. Jalan dibuka. Obor Pattimura dibawa lari entah oleh siapa. Aku tak mengenalnya. Namun dalam keramaian, berang merah tertiup angin melintas di depan mataku. Tak berbusana, tubuh yang seakan kotor terus melarikan obor itu dengan genggaman kuat. Sekuat Matahari yang sebentar lagi akan menyiram kota Ambon dengan cahayanya. “Orang itu pasti berkedudukan penting dalam sistem adat Maluku. Andai aku yang membawa obor itu, pasti kebanggaan adalah milikku.” Hati berbicara.

Keringat panas mulai membasahi punggung dan dadaku. Kapitan belum juga kutemukan artinya. Inginku bertanya-tanya pada keramaian saat itu. Namun jiwa ini tidak mengharuskan. Perlahan kaki melangkah. Aku menuju ranjang. Tidur kuteruskan.

Selepas hari itu, seluruh tubuh ini berdiri menghormat. Aku temukan arti kapitan dari seorang sejarawan. Mansyur Suryanegara. Seorang sejarawan yang tak kutahu rupanya. Tak kupeduli. Mau seperti apa orang itu. Sungguh tak kuhiraukan identitas Mansyur Suryanegara. Yang pasti lewat tulisannya, aku telah menemukan sepenggal pengetahun tentang arti kapitan. Sejujurnya aku berterima kasih kepada Mansyur Suryanegara.

Tulisan dibaca. Aku jadi tahu. Kapitan bukan hanya sekedar gelar atau sebutan pada zaman raja-raja. Kapitan tidak dan bukan hanya sebuah istilah kosong. Kapitan lebih dari itu. Kapitan sama sekali tidak terpaku pada seseorang yang mengepalai segerombolan masyarakat adat. Kapitan bukan hanya seorang pemimpin dalam perang. Aku juga tak tahu dari mana datangnya kapitan. Dalam ketidakpastian, kapitan juga bukan pemberian gelar dari Belanda.

Tak tahan lagi jiwaku berjalan untuk mengungkapkan arinya seturut yang kutahu dari Mansyur Suryanegara. Kapitan; dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran masyarakat Maluku. Tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang ditakuti. Jiwa serentak bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki oleh seseorang. Demikian pun Pattimura. Kesaktian kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia telah melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis-silsilah-keturunan itu diyakini bahkan diimani. Dari sinilah sebenarnya sebutan "kapitan" yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.

Aku kemudian berpikir, mungkin masih banyak lagi cerita-cerita tentang kapitan. Entah semakin lama semakin meragukan, atau sebaliknya mendekati kebenaran dan seterusnya benar secara objektif. Seterusnya, boleh jadi arti itu telah mengabulkan rasa penasaranku. Namun demikian, boleh jadi itu telah menberikan inspirasi dalam segala apa yang pernah didegar. Ke depan mungkin tak pernah lagi disinggung omongan tentang kapitan. Ah! Arti yang telah kudapati itu akan selalu kupegang selaku anak pribumi dari Maluku. “Pattimura “kapitan” kesayanganku.”

Ambon, 15 Mei 2012.

Blogger templates