Halaman

Selasa, 23 April 2013

Keesaan Perdamaian


Gagasan, kata orang, mustahil mekar kalau digembok dalam kandang. Gagasan hanya bisa tumbu dewasa bila dilepas keluyuran seperti ayam kampung, diberi ruang supaya segala mancam zat bebas bertandang, diizinkan berbenturan, bertabrakan, mati alami atau musnah kecelakaan. Setiap gagasan tidak pernah merapat di dermaga yang hampa. Dan semakin luas lalu-lintasnya, semakin jarang pula ada gagasan pribumi yang asli.

Damai artinya sama sekali tak ada kekerasan dan sama sekali tak ada permusuhan. Perdamaian dihadirkan untuk mencipta dan menjaga ketertiban, serta untuk melindungi manusia dari tindakan kekerasan maupun permusuhan. Karena itu, perdamaian pasti akan ada ketertiban, dan pasti adalah bentuk dari perlindungan. Jadi damai lawan dari kekacauan dan kekisruhan. Di samping itu, perdamaian megusulkan cinta dan kasih. Ini rasanya sangat masuk akal. Dalam kehendak itu, sebagian besar orang-orang mengembangkan keyakinan bahwa perdamaian memiliki kemampuan untuk mengubah segala keadaan yang tidak manusiawai menjadi lebih manusiawi.
Lebih daripada itu, perdamaian seperti kelahiran kembali secara menyeluruh. Orang-orang dari kubu tertindas, maupun dari kubu yang pernah berhadapan langsung dengan konflik penuh kekerasan kadangkala bahkan selalu ingin memiliki bentuk eksistensi baru; damai. Mereka tidak bisa tetap ada dalam situasi seperti itu. Dan hanya bila orang-orang mampu mewujudkan perdamaian, mereka telah mampu pula menjalin kesetiakawanan sejati dangan hati dan pikiran mereka. Perdamaian secara otentik mengikatkan dirinya pada setiap manusia, serta terus-menerus, mulai dan mulai lagi memberikan vitamin mawas diri pada setiap manusia.
Meski seperti itu, sepertinya damai itu tidak pantas diasumsikan. Sebab, seringkali yang kita sebut damai itu karena tidak ada kekerasan dan perang. Padahal dalam situasi damai pun ada terdapat banyak kemiskianan, kesengsaraan meluas, pengangguran, kemerosotan ekonomi, politik yang kacau-balau. Dan semua ini bisa saja disebut “indirect violence”.
Terbenam dalam kenyataan, ada pula orang-orang yang hidup di dunia ini yang masih saja tidak dapat menangkap secara jernih tatanan perdamaian. Kepentingan-kepentingan para penindas, para penjajah, pemegang kekuasaan, kaum pemberontak, sang tirani masih saja mencekik tatanan perdamaian itu. Mereka sering menampakan corak kekerasan [bisa secara halus, dalam hal menghalangi orang untuk mengembangkan dan atau memperoleh sumber hidup] horisontal, mengamuk pada semua orang tertindas bila ada alasan. Alasan terkecil sekalipun. Mereka barangkali telah menyimpan corak itu di dalam tulang-belulangnya.
Karena itulah tugas besar kita kini adalah bagaiman caranya menempatkan perdamaian di atas tempat duduk yang terhormat. Perdamaian menurut pandangan aksiologis, selalu menjadi problema pokok manusia, dan kini persoalan itu harus dipedulikan sungguh-sungguh. Selagi manusia memahami sejauh manakah konflik itu, ia bertanya pada dirinya sendiri apakah perdamaian merupakan kemungkinan yang akan lestari. Dalam sejarah, dalam konteks-konteks nyata dan objektif, perdamaian merupakan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia sebagai makhluk yang belum utuh menjadikannya sebagai fitrah.
Meski seperti itu, fitrah ini selalu diinjak-injak, namun justru tiap kali diinjak ia makin diteguhkan. Ia dikerdilkan lewat ketidakadilan, eksploitasi, penindasan, dan kekerasan yang dilakukan baik oleh para penindas maupun struktur yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Tirani, dengan T huruf besar. Tetapi fitrah perdamaian selalu mengalami keteguhan kembali melalui dambaan setiap manusia yang merindukannya. Selebihnya, fitrah perdamaian dikuatkan lewat perjuangan mereka yang ingin memulihkan kembali hakikat kemanusiaan.
Jika menilik pada titik didih logis dari perdamaian, maka kepedulian seketika membawa kita pada pengakuan terhadap perjuangan melawan akar penyebab perang, melawan ketidakadilan, indoktrinasi, diskriminasi, struktur tirani, dan penindasan di dunia ketiga, yang bukan hanya merupakan kemungkinan ontologis melainkan sudah menjadi kenyataan historis.
Dalam keadaan seperti ini, cukup jernih perdamaian akan memperoleh hasil jika ada penataan kembali ke dasar prioritas di dalam masyarakat. Maksudnya bahwa, keadaan terpuruk yang dibingkai lewat peperangan, kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, dan adanya struktur tirani, mengharuskan perdamaian melangkah dengan cara melakukan pula kekerasan [konflik] secara langsung, yang dapat dipertahankan sebagai sarana untuk menghilangkan kekerasan struktural [tirani]. Hal ini menerbitkan cahaya bahwa, perdamaian mesti menggenggam roh selaku pelaku [bertindak] bukan sebagai penonton. Sampai di situ, perdamaian bisa membenarkan tindak pemberontakan [perang – kekerasan] untuk mengurangi bahkan meleburkan struktur tirani [kekerasan struktural]. Sebuah pembenaran pada postur kekerasan revolusioner yang sepertinya dapat dilihat sebagai sarana untuk memperoleh resolusi tepat [perdamaian]. Barangkali ini bisa dikatakan sebagai keesaan perdamaian, yang secara prinsipil mesti diraih dan direbut, bukan diterima sebagai hadiah maupun anugerah.
Dengan demikian, perdamaian menanamkan pilihan pada setiap orang. Tergantung resep kemurah-hatian sejati mana yang diambil. Kemurah-hatian sejati adalah perjuangan untuk menghancurkan sebab-musabab atau sumber keterpurukan hidup; akar peperangan, kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, dan adanya struktur tirani. Kemurah-hatian sejati selalu berusaha agar tangan-tangan mereka makin manjadi tangan-tangan manusiawi yang bekerja, dan, dengan bekerja, mengubah dunia.
Di sini saya tidak berniat berpanjang-lebar membahas apa yang harus menjadi esensi dari perdamaian. Tapi saya ingin mengajukan satu gagasan yang secara prinsip mungkin bisa menjadi embrio dari dinamika perdamaian.
Perdamaian mesti diraih lewat penaklukan, bukan sebagai hadiah. Perdamaian harus direbut, bukan diterima sebagai anugerah. Perdamaian harus terus-menerus dikejar secara bertanggungjawab. Perdamaian bukanlah suatu cita-cita yang letaknya di luar manusia, bukan pula sepotong gagasan yang kemudian menjadi mitos. Perdamaian lebih merupakan syarat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi agar manusia dapat memulai perjuangan untuk menjadi manusia utuh. Sekian dulu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger templates