Gagasan, kata orang, mustahil mekar kalau digembok dalam
kandang. Gagasan hanya bisa tumbu dewasa bila dilepas keluyuran seperti ayam
kampung, diberi ruang supaya segala mancam zat bebas bertandang, diizinkan
berbenturan, bertabrakan, mati alami atau musnah kecelakaan. Setiap gagasan
tidak pernah merapat di dermaga yang hampa. Dan semakin luas lalu-lintasnya,
semakin jarang pula ada gagasan pribumi yang asli.
Damai
artinya sama sekali tak ada kekerasan dan sama sekali tak ada permusuhan.
Perdamaian dihadirkan untuk mencipta dan menjaga ketertiban, serta untuk
melindungi manusia dari tindakan kekerasan maupun permusuhan. Karena itu,
perdamaian pasti akan ada ketertiban, dan pasti adalah bentuk dari
perlindungan. Jadi damai lawan dari kekacauan dan kekisruhan. Di samping itu,
perdamaian megusulkan cinta dan kasih. Ini rasanya sangat masuk akal. Dalam
kehendak itu, sebagian besar orang-orang mengembangkan keyakinan bahwa
perdamaian memiliki kemampuan untuk mengubah segala keadaan yang tidak
manusiawai menjadi lebih manusiawi.
Lebih
daripada itu, perdamaian seperti kelahiran kembali secara menyeluruh.
Orang-orang dari kubu tertindas, maupun dari kubu yang pernah berhadapan
langsung dengan konflik penuh kekerasan kadangkala bahkan selalu ingin memiliki
bentuk eksistensi baru; damai. Mereka tidak bisa tetap ada dalam situasi
seperti itu. Dan hanya bila orang-orang mampu mewujudkan perdamaian, mereka
telah mampu pula menjalin kesetiakawanan sejati dangan hati dan pikiran mereka.
Perdamaian secara otentik mengikatkan dirinya pada setiap manusia, serta
terus-menerus, mulai dan mulai lagi memberikan vitamin mawas diri pada setiap
manusia.
Meski
seperti itu, sepertinya damai itu tidak pantas diasumsikan. Sebab, seringkali
yang kita sebut damai itu karena tidak ada kekerasan dan perang. Padahal dalam
situasi damai pun ada terdapat banyak kemiskianan, kesengsaraan meluas,
pengangguran, kemerosotan ekonomi, politik yang kacau-balau. Dan semua ini bisa
saja disebut “indirect violence”.
Terbenam
dalam kenyataan, ada pula orang-orang yang hidup di dunia ini yang masih saja
tidak dapat menangkap secara jernih tatanan perdamaian. Kepentingan-kepentingan
para penindas, para penjajah, pemegang kekuasaan, kaum pemberontak, sang tirani
masih saja mencekik tatanan perdamaian itu. Mereka sering menampakan corak
kekerasan [bisa secara halus, dalam hal menghalangi orang untuk mengembangkan dan
atau memperoleh sumber hidup] horisontal, mengamuk pada semua orang tertindas
bila ada alasan. Alasan terkecil sekalipun. Mereka barangkali telah menyimpan
corak itu di dalam tulang-belulangnya.
Karena
itulah tugas besar kita kini adalah bagaiman caranya menempatkan perdamaian di
atas tempat duduk yang terhormat. Perdamaian menurut pandangan aksiologis,
selalu menjadi problema pokok manusia, dan kini persoalan itu harus dipedulikan
sungguh-sungguh. Selagi
manusia memahami sejauh manakah konflik itu, ia bertanya pada dirinya sendiri
apakah perdamaian merupakan kemungkinan yang akan lestari. Dalam sejarah, dalam
konteks-konteks nyata dan objektif, perdamaian merupakan
kemungkinan-kemungkinan bagi manusia sebagai makhluk yang belum utuh
menjadikannya sebagai fitrah.
Meski
seperti itu, fitrah ini selalu diinjak-injak, namun justru tiap kali diinjak ia
makin diteguhkan. Ia dikerdilkan lewat ketidakadilan, eksploitasi, penindasan,
dan kekerasan yang dilakukan baik oleh para penindas maupun struktur yang mengatasnamakan
diri mereka sebagai Tirani, dengan T huruf besar. Tetapi fitrah perdamaian
selalu mengalami keteguhan kembali melalui dambaan setiap manusia yang
merindukannya. Selebihnya, fitrah perdamaian dikuatkan lewat perjuangan mereka
yang ingin memulihkan kembali hakikat kemanusiaan.
Jika menilik
pada titik didih logis dari perdamaian, maka kepedulian seketika membawa kita pada pengakuan terhadap perjuangan melawan akar penyebab perang, melawan ketidakadilan, indoktrinasi, diskriminasi, struktur tirani, dan penindasan di dunia ketiga, yang bukan
hanya merupakan kemungkinan ontologis melainkan sudah menjadi kenyataan
historis.
Dalam
keadaan seperti ini, cukup jernih perdamaian akan memperoleh hasil jika ada
penataan kembali ke dasar prioritas di dalam masyarakat. Maksudnya bahwa,
keadaan terpuruk yang dibingkai lewat peperangan, kekerasan, diskriminasi,
eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, dan adanya struktur
tirani, mengharuskan perdamaian melangkah dengan cara melakukan pula kekerasan [konflik]
secara langsung, yang dapat dipertahankan sebagai sarana untuk menghilangkan kekerasan
struktural [tirani]. Hal ini
menerbitkan cahaya bahwa, perdamaian mesti menggenggam roh selaku pelaku
[bertindak] bukan sebagai penonton. Sampai di situ, perdamaian bisa membenarkan
tindak pemberontakan [perang – kekerasan] untuk mengurangi bahkan meleburkan
struktur tirani [kekerasan struktural]. Sebuah pembenaran pada postur kekerasan
revolusioner yang sepertinya dapat dilihat sebagai sarana untuk memperoleh
resolusi tepat [perdamaian]. Barangkali ini bisa dikatakan sebagai keesaan
perdamaian, yang secara prinsipil mesti diraih dan direbut, bukan diterima
sebagai hadiah maupun anugerah.
Dengan demikian, perdamaian menanamkan pilihan pada setiap
orang. Tergantung resep kemurah-hatian sejati mana yang diambil. Kemurah-hatian
sejati adalah perjuangan untuk menghancurkan sebab-musabab atau sumber keterpurukan hidup; akar peperangan, kekerasan,
diskriminasi, eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, dan adanya struktur
tirani. Kemurah-hatian sejati selalu berusaha agar tangan-tangan mereka makin
manjadi tangan-tangan manusiawi yang bekerja, dan, dengan bekerja, mengubah
dunia.
Di
sini saya tidak berniat berpanjang-lebar membahas apa yang harus menjadi esensi
dari perdamaian. Tapi saya ingin mengajukan satu gagasan yang secara prinsip
mungkin bisa menjadi embrio dari dinamika perdamaian.
Perdamaian mesti diraih lewat penaklukan, bukan sebagai
hadiah. Perdamaian harus direbut, bukan diterima sebagai anugerah. Perdamaian
harus terus-menerus dikejar secara bertanggungjawab. Perdamaian bukanlah suatu
cita-cita yang letaknya di luar manusia, bukan pula sepotong gagasan yang
kemudian menjadi mitos. Perdamaian lebih merupakan syarat yang tidak bisa
ditawar-tawar lagi agar manusia dapat memulai perjuangan untuk menjadi manusia
utuh. Sekian dulu!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar