Ini hanyalah sebuah untian logika hati ketika bisa ada bersama dengan komunitas Gunung Mimpi.
Walau hujan yang deras atau tantangan yang keras, namun tidak dapat sedikitpun mematahkan semangat komunitas Gunung Mimpi untuk mengisi hari liburan sekolah sekaligus merajud mimpinya. Itu adalah nilai yang saya berikan bagi komunitas Gunung Mimpi, baik di segala derap langkah juangnya, maupun di malam pertama mereka mengisi hari liburan.
Mengasyikkan walau hujan. kita bisa bercanda, bermain bersama, bisa bernyanyi bersama, mendengar teriakan puisi, kita bisa nonton bersama pidato dari Sven Suzuki seorang anak berusia 12 tahun yang pidatonya mengguncang konvrensi PBB. Kita bisa mendengarkan bagaimana kakak Abe menyajikan nilai dari pidato Seven Suzuki, dan bahkan lebih dari itu, kita bisa tidur bersama di dalam sebuah tenda biru. Tenda yang telah merendahkan hati bagi kami menikmati malam bersama. Tenda yang telah rela memberikan dirinya ditimbuni hujan, asalkan kami dapat bernaung. Sungguh mengasyikkan bukan?
Di samping itu, hal yang menjadi esensi dari logika hati saya ini adalah, saya ingin berbagi cerita tentang perjumpaan saya dengan komunitas Gunung Mimpi. Perjumpaan yang ingin saya ceritakan ini bukan hanya berkisar di saat komunitas Gunung Mimpi membuat suatu kegiatan di malam ini. Namun lebih daripada itu, perjumpaan yang ingin saya ceritakan ini berlangsung sejak saya tahu bahwa Gunung Mimpi telah mengada di dunia ini.
Saya tidak memiliki banyak pengalaman tentang dunia anak, namun saya tahu teori bagaimana mendidik anak. Semuanya itu saya peroleh dari hasil studi saya, yang mana tugas akhir (skripsi) saya mengulas panjang lebar tentang pendidikan yang humanis bagi anak, yang semuanya itu saya peroleh berdasarkan paradigma dari "Paulo Freire".
Mungkin saya belum pernah mempraktekkan hasil dari skripsi saya. Tetapi saya merasa bahwa apa yang telah dibuat oleh sahabat sejati saya, Weslly, adalah sebuah transformasi yang begitu menakjubkan dalam dunia pendidikan di Maluku (Ambon). Dia begitu baik dalam mengelola psikologi anak. Dia jenius dalam mendidik mereka. Dan saya belum pernah menjumpai pendidikan seperti ini sebelumnya di tanah kelahiran saya Maluku (Ambon). Ketika saya melihat dan ada bersama dengan komunitas Gunung Mimpi, yang merupakan suatu komunitas yang dibuat oleh sahabat saya itu bersama calon istrinya Talsea, saya merasa tulisan saya dalam tugas akhir (skripsi) benar-benar terimplemantasi. Meskipun saya tahu benar bahwa sahabat saya itu tidak membaca tuntas apa yang dituliskan oleh saya. Namun, sahabat saya telah memberi banyak sekali kontribusi bagi penulisan skripsi saya. Selepas itu, saya terbuai dengan komunitas Gunung Mimpi.
Mulai dari metode belajarnya, cara menjalankan proses didikannya, benar-benar membuat saya terkesima, dan ingin membuka kembali skripi saya. Rasa nyaman ketika bisa melihatnya menjadikan dunia ini, Indonesia ini, khususnya Maluku (Ambon) ini sebagai objek pembelajaran bagi para adik-adik atau katakanlah peserta didiknya.
Kondisi pembelajaran yang dilakoni oleh sahabat saya ini tentunya menempatkan adik-adik sebagai subjek aktif.
Sebab, dalam rezim diri saya menilai bahwa, sahabat saya bersama calon istrinya sementara mempraktekkan kehidupan yang demokrasi. Mereka dengan sengaja membiarkan adik-adik untuk memilih, bahkan menentukan keiginan mereka untuk belajar mengulas dunia ini. Salah satu hal yang menarik dari mereka yaitu, mereka tidak hanya ada dalam tataran wacana. Tetapi mereka telah mewujudkan wacana yang mereka dirikan barsama. Misalnya, mereka sering sekali berwacana mengenai alam. Bagaimana menjaga alam, bagaimana caranya memelihara alam sebagai tempat kehidupan bersama, dan banyak sekali cakrawala mereka tentang alam.
Dari situ, seperti yang telah saya katakan di atas bahwa, mereka tidak hanya berwacana. Tetapi mereka mempraktekkan hasil dari wacana itu. Cara mempraktekkan pelestarian alam itu dinyatakan dalam sebuah tindakan yang konkrit, yakni, mereka setiap hari minggu berjalan mengumpulkan sampah-sampah plastik yang bertaburan liar di jalan. Dan mereka membuang sampah tersebut pada tempatnya. Sebuah praksis yang ideal. Dalam pengertian, mereka berpikir tentang bagaimana caranya menjaga alam agar tetap bersih, dan mereka pun bertindak untuk mewujudkannya. Bagi saya inilah model atau pola pendidikan yang aktual, dinamis dan tajam.
Lebih lanjut, ketika saya berdiskusi bersama sahabat sejati saya, dia mengatakan bahwa, satu hal yang terpenting dalam mendidik anak ialah, kesabaran. Meskipun ada terdapat emosi di dalam pendidikan yang dilakoninya. Emosi tersebut itu lahir ketika para adik-adik atau peserta didiknya membuat kesalahan. Dan baginya, kalau di saat mendidik ada kemarahan yang lahir karena di antara peserta didik (adik-adik) ada yang membuat kesalahan, sebaiknya langsung dituangkan kemarahan itu bagi adik yang berbuat kesalahan. Jangan pernah menyimpannya. Dan yang penting mesti juga menjelaskan bagi mereka mengapa mesti marah kepada mereka. Dengan kata lain, sebaiknya menjelaskan alasan kemarahan itu bagi adik-adik yang merupakan peserta belajar-mengajar.
Apa yang telah dilakukan oleh sahabat saya itu perlu dan mesti menjadi embrio bagi siapa saja yang berjuang dipihak kemanusiaan dan bagi siapa saja yang terus-menerus bergelut dalam dinamika ekologi.
Dari hal ini, mungkin saya salah menilai terhadap komunitas Gunung Mimpi maka, saya ingin mengetahui penilaian yang lain, yang mungkin benar.
Sampai di sini dulu cerita saya!
Sukses buat adik-adik di Gunung Mimpi. Hormat beta buat Weslly Johannes sahabat sejati, Albert Efraim Kofit kakak yang telah meluangkan waktu dan tenaga bagi keteguhan komunitas Gunung Mimpi, Talsea Tamaela sahabat sekaligus calon istri dari sahabat sejati saya, Weslly. Bu Rudi Fofid kakak yang banyak sekali memberi didikan tenang bagaimana menjadi seorang penyair yang profesional, Roni Tamaela sahabat sejati sekaligus motivator bagi komunitas Gunung Mimpi. Terima kasih Roni atas keprihatinannya bagi dunia anak sehingga telah membuat suatu komunitas yang baru juga (Kali Kehidupan). Bapa Jacky Manuputty terima kasih untuk pikiran dan tenaganya yang telah dituangkan bagi perkembangan Gunung Mimpi. Saya senang pikiran-pikiran dari bapa Jacky. Dan teman-teman yang lain, yang tahu benar tentang Gunung Mimpi sukses bagi kalian. Semoga saja kalian bisa mempraktekkan pendidikan yang humanis di mana saja kalian berada.
Beta simpatisan Gunung Mimpi..!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar