Hidup sebagai orang Kristen mengharuskan kita untuk dapat mengetahui dengan jernih apa itu Kekristenan atau inti dan hakekat agama Kristen itu sendiri. Sebab, ketika kita selaku orang Kristen tidak mampu memahaminya atau bahkan mengetahuinya, maka percumalah “kehadiran” Yesus Kristus sebagai juruselamat yang selama ini kita yakini akan keberadaanNya yang tak terbantahkan, percumalah iman, pengharapan dan kasih kita yang telah dibangun selama ini selaku orang Kristen, karena kita tidak mengetahuinya, mengetahui apa itu Kekristenan. Secara sederhana, inti dan hakekat agama Kristen ialah, pemberitaan Yesus mengenai kepercayaan yang ditaruh kepada Allah dan mengenai harga tak terhingga dari jiwa manusia yang diuntukkan menjadi satu dengan Allah. Kepribadian yang religius yang hidup dari hubungan dengan Allah, dan menempatkan diri dalam kehidupan yang etis, menurut pola yang digambarkan oleh Kristus, merupakan suatu hal yang hakiki dari Kekristenan. Jiwa manusia menjadi tempat di mana Allah dapat di temukan. Jadi, dari sini seakan ingin memperluas maknanya bahwa, Allah yang hadir dalam wujud manusia, Allah yang hadir dalam bentuk “darah” dan “daging”, yakni dalam “kehadiran” Yesus Kristus memberi pengertian bahwa, di dalam jiwa manusia (Yesus Kristus) di situ ada kedaulatan Allah. Oleh karena itulah, Allah mesti merupakan subjek dari hubunganNya dengan manusia, dan ketika Allah menjadi subjek, maka segala sesuatu menyangkut Kekristenan itu mesti juga dipikirkan mulai dari Allah. Namun demikian, barangkali gagasan mengenai “pengertian subjek” ini masih terlalu samar, tetapi akan menjadi tidak samar ketika di kemudian hari dijadikan lebih konkret (tepat) dalam ajaran tentang Firman Allah. Allah menyatakan Diri kepada manusia dalam FirmanNya, yang menjadi manusia dalam Yesus Kristus. Inilah sepenggal inti dan hakekat dari agama Kristen itu, di samping luasnya inti dan hakekat yang ada.
Dari sini dapat kita lihat bahwa, Allah yang kita yakini dalam Yesus Kristus merupakan Allah yang besar, Allah yang perkasa, Allah yang mampu melakukan segala hal yang tak sanggup dipikirkan bahkan dilakukan oleh kita selaku manusia biasa. Watak mendasar dari kemahakuasaan dan perbuatan Allah ini hadir lewat caraNya menjadi manusia. Ketika Allah menjadi manusia, maka di situlah letak kemuliaanNya. Allah itu mulia karena perbuatanNya yang besar, bukan karena pujian yang dipersembahkan manusia biasa bagiNya. Kalaupun ada upaya manusia biasa untuk memujiNya, memuliakanNya itu hanyalah bentuk respon manusia biasa padaNya, bukan karena ketika ada pujian dari manusia biasa bagiNya barulah ada kemuliaan bagiNya. Sebab, pada dasarnya Allah itu telah mulia dan kemuliaanNya itu ada oleh sebab perbuatanNya yang besar, yang telah terjadi, yang telah ada jauh hari sebelum manusia mengada dalam dunia ini.
Di samping itu, ketika kita melihat bahwa pujian itu bersumber dari manusia biasa bagi Allah untuk menyatakan kemuliaanNya, maka itu hanya merupakan ucapan syukur bagi Allah atas intervensiNya (campur tanganNya) bagi manusia dalam menangani segala persoalan hidup manusia, yang mana manusia tak mampu lagi menjalani hidup kalau tanpa intervensi dari Allah. Tetapi ini bukan berarti bahwa Allah itu dipermuliakan karena adanya manusia. Namun sebaliknya, kemuliaan Allah itu ada ketika Allah melakukan perbuatan-perbuatanNya bagi manusia, dan ketika Allah melakukan perbuatan-perbuatanNya bagi manusia, maka di situlah letak kedamaian yang dirasakan oleh segenap manusia di bumi. Allah yang menyelamatkan orang-orang berdosa, Allah yang peduli terhadap orang-orang miskin, Allah yang peduli serta mengatasi persoalan hidup orang-orang yang tersisihkan, membuat Allah itu selalu mulia. Dengan perbuatan-perbuatan Allah ini bagi manusia dalam hal melakukan pembebasan dalam kesengsaraan yang dirasakan oleh manusia, maka disitulah letak kedamaian yang dirasakan oleh manusia. Itulah sebabnya sangatlah tepat jika, Allah yang kita yakini adalah Allah yang tidak tergantung pada siapa pun, Allah berdaulat dalam kebesaranNya, dan Dia bebas melakukan apa saja yang Ia kehendaki, dan dari sinilah letak mutlak kemuliaanNya. Jadi, karena Allah itu mampu melakukan segala hal tanpa ada keterikatan dengan siapa pun, maka Allah itu mulia dan kemuliaanNya itu selalu mendatangkan kedamaian di bumi.
Lebih jauh dari itu, salah satu bentuk nyata dari perbuatan Allah yang besar yang kita sebagai manusia rasakan di saat ini adalah “kehadiranNya” sebagai manusia. Upaya untuk membuktikan akan hal itu hadir dalam Injil Lukas ini. Injil Lukas saat ini, lebih spesifik (khusus) Lukas 2:14 dengan tegas membuktikan akan perbuatan Allah. Perbuatan Allah untuk dapat hadir, merasakan, serta melebur dengan manusia, dan Allah yang besar itu menjadi manusia. Manusia yang dalam jiwaNya Allah ada, manusia itu adalah Yesus Kristus yang mana kita selaku manusia biasa percaya bahkan meyakini akan keberadaanNya, keberadaan Yesus Kristus.
Oleh kerena itu, Injil Lukas memberi dua pengertian mendasar bagi kita sekalian. Yang pertama: adanya kemuliaan bagi Allah. Kemuliaan bagi Allah itu disebabkan bukan karena adanya manusia, namun disebabkan karena perbuatan Allah yang besar terhadap kehidupan manusia yang memburuk. Yang kedua: adanya kedamaian di bumi. Karena perbuatan besarNya terhadap manusia, dalam wujud “kehadiran” Yesus Kristus, maka perbuatanNya itu selalu dan selalu memberi kedamaian bagi manusia. Kedamaian di bumi berarti kedamaian yang dirasakan oleh segenap manusia yang membutuhkannya. Manusia membutuhkan akan kedamaian itu, dan Allah lewat Yesus Kristus memberikannya, disebabkan karena manusia merasa bahkan mengalami keterpurukan dalam menjalani hidupnya. Hal inilah yang selalu ingin dilakukan oleh Allah.
Dengan demikian nyata bahwa Yesus Kristus memainkan peran penting dalam kehidupan manusia, dan itulah yang mesti mengantar kita untuk melakukan penetrasi (penerobosan) terhadap pentingnya Kekristenan. Sebab, ketika kita tidak tahu dengan benar apa itu kekristenan, maka dengan sendirinya kita tidak pernah tahu juga dengan siapa itu Allah dalam jiwa Yesus Kristus. Hal ini bukan berarti bahwa, Allah yang hadir dalam jiwa Yesus Kristus itu melakukan suatu perbuatan untuk menciptakan sebuah agama, yakni Kekristenan. Namun demikian, secara esensial Yesus Kristus lewat segala jerih juangNya ingin memboboti keyakinan setiap manusia untuk tetap teguh kepada Allah. Yesus Kristus ingin memperkenalkan Allah kepada segenap manusia, dan Ia ingin menegaskan bahwa Allah yang ada dalam jiwaNya adalah Allah yang hidup serta mampu melepaskan setiap manusia dari situasi-situasi penindasan, dan ketika Allah lawat peran Yesus Kristus melakukannya, itu berarti kedamaian akan terwujud dalam bumi ini. Bumi dimana manusia mengada dan berpijak.
Lebih lanjut, lewat “kehadiranNya” ini, kita selaku manusia Kristen mesti memahami dengan benar akan keyakinan kita padaNya. Kita mesti mengetahui dengan tepat siapa itu Allah yang berada dalam jiwa Yesus Kristus. Setelah kita mampu memahami dengan baik siapa itu Allah, apa dan bagaimana peranNya bagi kita selaku manusia, maka pentingnya upaya penyadaran untuk menyambutNya, menyambut akan segala perbuatanNya yang mulia, dari pihak kita selaku manusia.
Sering terjadi, upaya penyambutan yang dilakukan oleh kita selaku manusia Kristen adalah penyambutan dalam betuk “eforia” (berpesta pora, menghambur-hamburkan uang, dll, silahkan ditambakan sendiri). Sebab, barangkali bagi kita selaku manusia inilah bentuk kedamaian yang kita rasakan ketika melakukannya, dan ketika kita tidak melakukan akan hal ini (eforia) maka, kedamaian itu tak pernah dirasakan oleh kita. Apakah iya?
Toh nostalgia masih mengalun, dan kita tetap menyambut kehadiran Allah ini seperti demikian, dalam arti melakukan eforia tersebut. Ketika kita selalu menyambutNya dalam nuansa eforia, itu menandakan bahwa kita tidak pernah mengerti dengan sungguh akan Kekristenan kita. Kita belum memahami dengan baik apa itu Kekristenan yang selama ini kita anut. Kekristenan secara murni memberi pengertian bahwa, memusatkan keyakinan kita selaku manusia kepada Roh Kudus menjamin akan adanya kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik itu selalu bertolak dari manusia yang tidak hanya terhenti pada manusia, namun tegak lurus ke atas, sebab Roh Kudus yang mengikat manusia pada Allah yang dalam Kristus menghadap Diri kepada manusia. Jadi, kita sebagai orang Kristen ketika memusatkan iman kita pada Roh Kudus, itu mengharuskan kita untuk meninggalkan eforia itu. Karena Roh Kudus itu selalu mengintai kehidupan kita, maka janganlah kaget kalau melakukan eforia, iman kita dapat dikategorikan sebagai iman yang rapuh. Sebab, iman kita tidaklah terhenti pada diri kita, namun iman kita itu selalu menghampiri dan dihampiri Allah (tegak lurus ke atas). Oleh karena itu, ketika upaya penyambutan yang dilakukan oleh kita bernuansa eforia, maka kita hanya menghampiri namun tidak pernah dihampiri.
Mesti kita ketahui bahwa, Allah dalam Yesus Kristus tidak pernah menginginkan manusia menyambutNya dalam bentuk eforia, namun Allah akan berkenan ketika penyambutan tersebut bermuara pada jiwa-jiwa manusia yang mengalami keterburukan, dalam arti menolong orang-orang tersebut. Allah akan berkenan ketika penyambutan tersebut bermuara pada upaya mempertebal iman, pengharapan dan kasih. Iman kepada Allah, pengharapan kepada Allah, serta kasih kepada Allah dan sesama manusia. Mempertebal iman kita, itu berarti kita mesti selalu menghargai Allah dalam hal menghargai segala perbuatanNya bagi kita selaku manusia. PerbuatanNya yang besar untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa dengan kehadiranNya dalam wujud manusia, yakni dalam Yesus Kristus menandakan betapa pedulinya Allah bagi kehidupan manusia. Lalu apakah kepedulianNya itu, perbuatanNya itu mesti disambut dengan eforia?
Berpengharapan kepada Allah merupakan hal yang esensi dari manusia, sebab kita mesti tahu bahwa harapan kita hanya terletak pada Allah dan bagi Allah. Kita sebagai orang Kristen tidak boleh sekali-kali berharap kepada manusia, sebab ketika berharap pada manusia, harapan itu dengan sendirinya akan meleset. Berharaplah selalu pada Allah dan yakinlah bahwa harapan itu tidak pernah meleset, dan salah satu wujud nyata bahwa kita selalu berharap bagiNya mesti ditandai dengan berdoa serta melayani sesama yang tertindas. Inilah yang mesti juga merupakan upaya penyambutan kita dalam rangka kehadiranNya di bumi ini.
Kasih kepada sesama adalah juga bentuk kasih kepada Allah. Lantas, kasih seperti apakah yang mesti diprakarsai oleh kita? Apakah membagi-bagikan eforia? Ataukah membagi-bagikan kepedulian terhadap yang miskin, yang yatim-piatu, yang kelaparan, yang terdindas, yang hidup sebagai anak jalanan, yang janda, yang duda, dll. Silahkan ditambakan sendiri. Namun demikian, kalau hanya sebatas peduli, maka kita tidak lebih dan tidak kurang seperti orang-orang yang hanya menujukan pandangan kita pada eforia tersebut. Ketika kita peduli dengan sesama kita, baik yang seiman maupun yang tidak seiman, maka kita mesti melakukan sesuatu bagi mereka, dan sesuatu yang kita lakukan itu kalau hanya bersumber dari diri kita sendiri pun akan mengalami kemandulan total. Kita mesti melakukan sesuatu dalam upaya menghidupkan mereka, memberdayakan mereka dengan memerlukan campur tangan Allah. Maka dari situlah pentingnya berharap pada Allah, agar Allah dapat melakukan perbuatanNya yang besar bagi mereka, untuk menghidupkan mereka. Itulah kemuliaan Allah yang mendatangkan damai di bumi. Berharap pada Allah dengan cara berdoa dan bertindak untuk mengatasi akan fenomena ini akan mengalami kekosongan jika iman kitapun dangkal.
Dengan demikian, pentingnya mempertebal iman, pengharapan dan kasih, dan biarlah upaya mempertebal iman, pengharapan dan kasih ini merupakan sarana penyambutan kita selaku manusia terhadap “kehadiran” Allah di bumi ini, bukan eforia. Kedamaian di bumi akan selalu mewarnai hidup ini, jika kita dapat menyambut perbuatan Allah lewat kehadiraNya dengan cara ada bersama-sama dengan Allah dalam Yesus Kristus untuk memerangi setiap keterpurukan yang menjadi fenomena bumi ini. Lantas bagaimana caranya kita untuk ada bersama-sama dengan Allah dalam Yesus Kristus? Kita akan selalu dapat bersama-sama dengan Allah ketika iman, pengharapan dan kasih kita melampaui jagad ini.
Ok, Ino... Nanti dibaca dulu baru posting komentar..
BalasHapusNos Autem Praedicamus Christum Crucifixum !
ok! Weslly.
BalasHapus