
Oleh : Aprino Berhitu
Di dunia yang senantiasa bergerak, berubah dan berpengaruh terhadap peningkatan, dan pengembangan kualitas kehidupan, maka pendidikan memiliki relevansi dari upaya-upaya tersebut. Pendidikan telah menjadi bagian yang utuh dalam kesadaran setiap manusia di tengah realitas kehidupannya. Dengan adanya pendidikan, setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan akan mempunyai kemampuan daya-cipta dalam berbagai bentuk.
Banyak pandangan, sistem, pola, serta metode pendidikan yang telah dirumuskan dan diberlakukan secara konkrit dalam dunia pendidikan dan terus dikembangkan untuk tujuan yang hakiki, memanusiakan manusia dan bukan sekedar transfer pengetahuan. Mengenai transfer pengetahuan, pendidikan bukan hanya berupa transfer pengetahuan dari satu orang ke satu (beberapa) orang lain, tapi juga mentransformasikan nilai-nilai (bukan nilai di atas kertas), tapi nilai ke dalam jiwa, kepribadian, dan struktur kesadaran manusia itu, keseluruhan jati-diri manusia. Jadi, pendidikan harus merupakan pencerdasan manusia oleh manusia menuju lahirnya insan bernilai secara kemanusiaan.
Kemanusiaan secara leksikal bermakna sifat-sifat manusia, berperilaku selayaknya perilaku moral sebagai manusia, atau bertindak dalam logika berpikir sebagai manusia. Untuk itu, pendidikan yang utama haruslah merupakan pemberdayaan manusia melalui ilmu pengetahuan dan nilai etis-moral agar terbentuk manusia sejati, ikhtiar memanusiakan kembali manusia (humanisasi) merupakan pilihan mutlak.
Sebab, fenomena sosial dan kemanusiaan di sekitar tidak jarang membuat jengkel, pusing kepala, bahkan tidak dapat dimengerti. Keterpurukan sosial, politik, hukum, ekonomi, pelanggaran ketertiban umum, aksi memfitnah, main hakim sendiri, kerusuhan, perampokan, pecandu narkotika dan obat-obat terlarang, mengeluarkan kata tak senonoh, politisasi massa, kekerasan, korupsi, kolusi, nepotisme, fenomena anak jalanan, arogansi kekuasaan, dan banyak perilaku buruk lainnya, benar-benar masih menggejala.
Fenomena ini membuktikan bahwa, pendidikan yang mapan dan dijalankan selama ini dilihat sebagai sebuah kewajiban, pendidikan yang melihat totalitas kesadaran manusia sebagai wadah kosong yang harus diisi, totalitas kesadaran manusia yang dilihat sebagai sebuah hasrat ditiadakan. Pendidikan yang dijalankan dapat dikatakan bernuansa dehumanisasi, dalam arti bahwa, pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Menganggap bodoh secara mutlak pada orang lain, sebuah ciri dari ideologi penindasan, berarti mengingkari pendidikan dan pengetahuan sebagai proses pencarian. Guru menampilkan diri di hadapan murid-muridnya sebagai orang yang berada pada pihak berlawanan; dengan menganggap murid mutlak bodoh. Di samping itu, murid diarahkan untuk mendengar, mencontohi, mencatat apa yang dikatakan oleh guru, murid disamakan dengan sebuah benda yang gampang diatur berdasarkan keiginan sang guru, pendidikan akhirnya bersifat negatif di mana guru memberi informasi yang harus ditelan oleh murid yang wajib diingat dan dihapalkan.
Selama ini dapat dikatakan, dan biar bagaimanapun juga murid itu selalu ditekan. Satu contoh kasar saja, perasaan yang paling dini ditekan adalah yang berhubungan dengan penentangan langsung dan rasa tak senang. Mula-mula tiap murid pasti menyimpan sikap menentang dan daya berontak tertentu, lantaran selalu berada dalam konflik dengan lingkungan sekitar yang cenderung menghalangi gerak-jelajahnya, dan sikap itu makin kental karena, sebagai pihak yang lebih lemah, murid biasanya harus mengalah. Proses pendidikan pun direka dengan salah satu sasaran awal berupa penghapusan tanggapan antagonistik murid ini. Metode-metodenya bermacam-macam; ada yang mengancam dan menghukum, menakut-nakuti; sampai ke cara-cara yang lebih samar, yakni lewat penyuapan atau ‘penjelasan’, membingungkan anak dan membuatnya menanggalkan sikap menentang semula.
Bagi Paulo Freire , sistim pendidikan sebaliknya justru harus menjadi kekuatan penyadar dan pembebas umat manusia. Sistim pendidikan mapan selama ini telah menjadikan anak didik sebagai manusia-manusia yang terasing dan tercabut (disinherited masses) dari realitas dirinya sendiri dan realitas dunia sekitarnya, karena ia telah mendidik mereka menjadi ada dalam artian menjadi seperti, yang berarti menjadi seperti orang lain, bukan menjadi dirinya sendiri.
Pendidikan bagi Freire, bertujuan menggarap realitas manusia dan karena itu, secara metodologis bertumpu di atas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total, yakni prinsip bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas dan pada sisi simultan lainnya secara terus-menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas tersebut. Inilah makna dan hakekat praxis itu, yakni “menunggal karsa, kata dan karya”, karena manusia pada dasarnya adalah kesatuan dari fungsi berpikir, berbicara dan berbuat. Jadi, keduanya (murid dan guru) saling belajar satu sama lain, saling memanusiakan. Dalam proses ini, guru mengajukan bahan untuk dipertimbangkan oleh murid dan pertimbangan sang guru sendiri diuji kembali setelah dipertemukan dengan pertimbangan murid-murid, dan sebaliknya. Hubungan keduanya menjadi subjek-subjek, bukan subjek-objek. Objek mereka adalah realita. Dengan demikian, bukan siapa yang hendak mengajarkan siapa, tetapi keduanya (guru dan murid) saling mengajari dan melengkapi, demi terciptanya manusia yang pro-aktif serta produktif dalam menghadapi kehidupan yang semakin mengglobal.
Kepustakaan :
Sudarwan Danim, Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hal. 1-2
Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas (Yogyakarta: LP3ES, 2000), hlm. 51
Omi Intan Naomi (peny), Menggugat Pendidikan, Fundamentalis Konserfatif Liberal Anarkis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 344
Paulo Freire, Kehidupan, Karya dan Pemikiranya (Pustaka Pelajar bekerja sama dengan Komunitas APIRU, 1999), hal. 17-19
Paulo Freire, Politik Pendidikan (Research, Education and Dialogue, 2004), hlm. ix-xv
Tidak ada komentar:
Posting Komentar